Cerpen: Sri Lestari
Sumber: Suara Karya, Edisi 01/29/2006
Langit malam buram. Menangis. Kilat menyambar. Mengantarkan gelegar petir membelah perkampungan kumuh di pinggir sungai. Rumah-rumah berdinding kardus dan papan bekas berjejalan. Sempit, sesak, lembab. Daun-daun pintu bergoyang. Berderak. Seolah ada tangan hantu mempermainkan pintu-pintu itu dari luar. Angin kencang menghempas, hujan deras. Sungai meluap. Menghamburkan air kotor penuh limbah pabrik, kotoran manusia dan sampah. Barangkali kiamat akan mendatangi perkampungan kumuh itu malam ini.
"Soto daging, Mak. Soto daging," Suara igauan bersaing dengan hujan deras dan gelontor air yang menerobos melalui celah-celah atap plastik yang bocor.
Seorang perempuan paruh baya bermuka tirus, berbaju kumal dan rambut semrawut mendekap bocahnya yang mengerang, menggigil dan terus menerus mengigau. Seorang bocah yang lain duduk meringkuk di sudut. Tangannya memeluk kedua kaki yang tertekuk. Dagunya bertumpu pada lutut. Kantuk belum juga menghampirinya meski hujan telah mengusir nyamuk-nyamuk ganas dari rumah kardusnya malam ini.
"Karti harus dibawa ke dokter, Mak."
Perempuan paruh baya yang dipanggil Mak itu melonggarkan dekapan. Bangkit dari berbaring dan memeriksa kening anak perempuannya. Masih demam. Sudah seminggu ini Karti sakit panas. Bahkan beberapa kali badan bocah perempuan berusia lima tahun itu mengejang. Matanya mendelik menakutkan. Untung, kejangnya berkurang setelah dikompres berkali-kali.
"Kau belum tidur? Tidurlah, besok kau harus kerja."
Bocah di sudut itu menggeleng. Menyelonjorkan kakinya yang letih tertekuk. Membiarkan badannya menggigil kedinginan dan gelontor air hujan membasahi kakinya.
"Karti harus dibawa ke dokter, Mak," ulangnya.
Karti butuh dokter dan ingin makan soto daging. Ia, perempuan paruh baya itu menghela nafas berat. Terdiam lama. Meski perih menggerogoti lambungnya tapi ia tak mungkin bisa istirah. Tumpukan barang-barang rongsokan di depan rumah kardusnya harus dipilah-pilah agar bisa dijual esok hari. Seharian berjalan mengelilingi kota dan mengorek setiap tempat sampah yang dilewatinya membuat sendi-sendi tubuhnya dirajam letih.
Karti sakit. Demamnya tak juga mereda meski sudah diberi obat toko. Bagaimana caranya membawa Karti ke dokter? Berapa harga periksa dan obat dokter sekarang ini? Berpikir tentang beras, minyak dan garam saja sudah kelimpungan. Beban bertumpuk. BBM naik lagi. Harga-harga menggila. Anak laki-lakinya yang beranjak sebelas tahun, Udin, tak selalu pulang membawa uang dari pekerjaannya menjual plastik kresek hitam dan membawakan barang-barang belanjaan ibu-ibu di pasar. Mungkin lebih baik dibelikan cabe yang sekilo tigapuluh ribu ketimbang mengupah Udin membawakan barang belanjaan. Atau menunggu uang bantuan untuk keluarga miskin? Ah, ia tak berani banyak berharap. Ia bukan golongan orang miskin. Tapi derajatnya ada dibawah golongan orang miskin. Yakni; kere.
Angin malam kembali menghempaskan daun pintu hingga terbuka. Air hujan menyembur masuk. Karti masih mengerang. Perempuan itu beranjak menutup pintu. Hatinya mengeluh ngilu. "Kang Mardi, kapan kau pulang?"
"Kalau Bapak tak masuk penjara, pasti bisa membawa Karti ke dokter. Juga membelikan soto daging ya, Mak? Dulu, Bapak selalu pulang membawa makanan setiap hari. Aku tak percaya Bapak mencuri seperti yang dituduhkan orang-orang pasar."
Perempuan itu memandang anak laki-lakinya. Setiap bicara tentang bapaknya, bocah itu terlihat gusar, marah dan kecewa.
"Bapak hanya tukang sapu pasar, bukan pencuri. Bagaimana mungkin aku percaya pada omongan orang-orang pasar itu, Mak? Selama ini Bapak selalu mengajariku mencari uang dengan cara yang baik. Bahkan kita tak boleh mengemis."
"Tidurlah. Jangan terus bicara kalau kau ingin membawa Karti ke dokter dan membelikannya soto daging besok."
Udin terdiam. Memandangi maknya sekejap lalu membaringkan tubuhnya di lantai tanah. Merapat ke dinding kardus yang basah. Kain sarung kumal melindungi tubuh kurusnya yang terus mengigil. Matanya berkedip-kedip. Perlahan ia mencoba memejamkan mata. Hatinya berjanji. Besok, ia harus mendapatkan uang untuk membawa Karti ke dokter dan membeli soto daging!
* * *
"Sekilo limapuluh ribu, Bu. Maklumlah BBM naik, semua harga juga naik."
Hari sedang menuju senja. Gerimis masih berderai. Pasar hiruk pikuk. Semrawut. Angin lembab meruapkan bau busuk sampah yang bertumpuk. Udin menghentikan langkahnya di blok penjual daging. Berdiri mematung. Menatap seorang wanita gemuk berambut keriting yang sedang memilih daging sapi segar sambil menawar-nawar harga.
Limapuluh ribu? Meski tak tamat sekolah dasar, Udin mengerti jumlah itu tidak sedikit. Ia meraba saku celana pendeknya. Beberapa uang receh sisa membeli nasi bungkus kemarin masih di sana. "Ah, mana mungkin membeli daging dengan uang receh ini?" keluh hatinya. Sedangkan hari ini belum ada seorang pun membeli tas kresek hitamnya atau memintanya membawakan barang-barang belanjaan.
Ini hari kelima Udin sengaja melewati blok penjual daging. Memasang telinga lebar-lebar, agar bisa mendengar percakapan antara penjual daging dan ibu-ibu pembeli tentang harga daging. Tapi bagaimana ia bisa memenuhi janjinya tempo hari pada Karti jika harga daging sekilo limapuluh ribu?
"Bawakan barang saya sampai depan pasar!"
Udin masih mematung dengan tangan merabai saku celana ketika seorang lelaki menghardiknya.
"Heh! Tuli kau!? Atau tak mau uang?"
Udin hampir terjatuh di sodok lengan preman pasar yang kekar itu. Buru-buru ia menghampiri wanita gemuk berambut keriting yang tadi membeli daging. Tanpa banyak kata Udin mengangkat tiga tas belanjaan di depannya. Urat-urat di kedua tangannya yang kurus langsung bertonjolan keluar karena beban berat yang sangat. Namun Udin tak perduli. Terseok-seok ia mengikuti langkah wanita gemuk yang berjalan dengan gesit itu. Beberapa kali kaki Udin yang terbungkus plastik hitam terpeleset. Lantai tanah pasar tradisional itu licin. Genangan air hujan ada di mana-mana.
"Ini upahmu!" Wanita gemuk berambut keriting itu mengangsurkan dua lembar uang kertas kumal seribuan pada Udin.
Dua ribu rupiah? Udin mengamat-amati dua lembar uang kumal itu. Harga-harga naik begitu mahal, tapi upahnya membawakan barang-barang belanjaan tak pernah naik dari tahun ke tahun. Tetap saja dua ribu rupiah. Atau paling banyak lima ribu rupiah kalau pemilik barang yang dibawakannya penuh belas kasihan. Bayangan Karti makan soto daging dengan lahap melintasi mata Udin. Oh, berapakah harga semangkuk soto daging di warung Yu
Marti? Mungkin lima ribu atau sekarang tujuh ribu. Udin menoleh ke warung Yu Marti. Seminggu setelah BBM naik dan harga melambung, warung soto daging itu tutup. Yu Marti tak lagi kuat membeli daging untuk dibuat soto. Udin mendesah. Memasukkan dua lembar uang kumalnya ke saku celana.
"Uangku kurang empatpuluh delapan ribu lagi untuk membeli sekilo daging. Moga-moga Karti mau sabar," gumamnya lirih.
* * *
"Soto daging, Mak. Soto daging."
Karti masih terus mengigau. Tubuhnya seperti habis menelan bara. Panas tinggi. Bibirnya membiru. Kaki, tangan dan perutnya mulai kejang-kejang. Matanya mendelik. Ia, perempuan paruh baya itu hanya bisa mengompres kening Karti dengan air sungai. Digantinya sapu tangan handuk lusuh itu setiap kali mengering. Berkali-kali.
Perih dilambungnya sendiri tak diperdulikan. Perutnya dijerat tali setagen agar laparnya tak menjadi-jadi. Sudah tiga hari ia tak pergi memulung. Sakit Karti semakin parah. Dan Udin hanya bisa membawa sebungkus nasi setiap harinya untuk dimakan bertiga. Pagi dan siang mereka hanya minum rebusan air sungai.
Duh Gusti, seandainya ada seorang pemimpin menyamar seperti zaman sahabat dulu? Perempuan itu menerawang. Mengkhayal seorang penyamar datang ke rumah kardusnya. Seperti cerita yang didengarnya di surau kampung masa kecilnya lewat seorang guru ngaji. Tentang seorang pemimpin yang sering menyamar untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Lalu memberi sekarung gandum setelah tahu rakyatnya memasak batu karena kelaparan. Oh, datangkan seorang penyamar untuk menolong Karti, Gusti...
"Mak, cepat buka pintunya!"
Perempuan itu terhenyak. Benarkah penyamar itu datang? Bukankah itu suara Udin? Ia beranjak membuka pintu. Anak laki-lakinya tersenyum lebar di depan pintu. Tangan kanannya menjinjing kresek hitam. Wajahnya merah padam. Keringat mengucur di dahi, merembes ke pipi. Nafasnya tersengal-sengal. Sepertinya Udin berlari kencang agar cepat sampai rumah kardusnya.
"Mak, aku membawakan daging untuk Karti. Mungkin sekilo lebih! Tanganku sampai pegal membawanya sambil lari-lari. Tadi sepulang dari pasar, aku menemukan daging ini di angkutan. Wah, kita bisa makan daging ini untuk beberapa hari, Mak! Bumbunya juga sudah kubelikan di warung! Cepatlah Mak masak. Kasihan Karti."
Tak ada kata yang keluar dari bibir perempuan itu. Ia terdiam. Gagu. Antara gembira, sedih dan haru. Setelah memerintah Udin menjaga Karti, perempuan itu bergegas ke belakang rumah. Tempat ia biasa memasak. Dinyalakan kayu bakar. Dijerangnya air sungai dalam panci penyok. Daging dipotong-potong, dibersihkan lalu dimasukkan dalam panci. Aroma sedap mengepul menembus dinding kardus ketika daging telah masak bersama bumbu soto. Udin menelan air liurnya berkali-kali. Tubuh Karti yang mengejang mulai mereda.
"Udin, makanlah. Kau pasti sudah sangat lapar, "ujar Mak sambil menenteng panci penyok berisi soto daging ke dalam rumah. "Mak akan menyuapi Karti. Siapa tahu dia langsung sembuh."
Udin berlari mengambil mangkuk plastik di belakang rumah. Perempuan itu meniup-niup soto daging dalam piring plastik dan menyuapkan ke bibir Karti pelan-pelan. Maka, sore itu satu janji Udin telah lunas. Membelikan soto daging untuk adiknya. Tinggal satu janji lagi. Membawa Karti ke dokter.
"Ah, semoga Karti cepat sembuh dan tak perlu ke dokter," bisiknya lirih sambil merebahkan tubuh di lantai tanah. Tiba-tiba matanya sangat ngantuk. Perutnya kekenyangan setelah makan dua mangkuk soto daging yang lezat.
* * *
Nyonya Maliana blingsatan. Marah besar. Memaki-maki pembantunya. Kecantikan wajahnya yang selalu terurus salon seketika lenyap. Ia kehilangan!
"Hah!? Kau lupa menaruh tas kresek itu? Dasar tolol!"
Air mata pembantu muda itu meleleh. Ketika mampir ke pasar beberapa hari lalu, ia benar-benar lupa membawa tas kresek hitam itu turun dari angkutan. Apakah lupa itu sebuah dosa? Sia-sia ia mengatakan hal yang sejujurnya pada Nyonya Maliana. Sekarang ia memilih diam. Toh, apapun yang ia katakan, wanita itu akan terus memaki-makinya.
"Kalau sampai tas kresek itu ditemukan orang dan terjadi apa-apa, kau harus bertanggungjawab!"
"Tapi Nyonya, saya,"
"Makanya, pakai otakmu!" Nyonya Maliana mendorong kepala pembantu yang tersedu itu kasar. Seorang lelaki gendut menjelang tua, berkepala botak tertatih menghampiri mereka. Tangan kanannya menyangga perut.
"Ada apa, Ma?"
Nyonya Maliana memandang lelaki itu. "Pembantu gila itu bikin gara-gara. Tas kresek hitam milik Papa waktu itu hilang. Coba, bagaimana kalau tas kresek itu ditemukan orang dan dimantra-mantra? Sekarang kan banyak orang yang memperebutkan jabatan Papa yang basah itu?"
"Jadi kresek hitam dan isinya itu belum dikuburkan?"
Nyonya Maliana mendengus. Sang terdakwa, pembantunya, menggeleng ketakutan. Kaki dan tangannya gemetar. Sementara lelaki berkepala botak itu meraba perutnya perlahan seraya bergumam, "moga-moga, daging tumorku itu ditemukan bocah gelandangan dan dibuang ke sungai."
* Jakarta, Sept 2005
Sumber: Suara Karya, Edisi 01/29/2006
Langit malam buram. Menangis. Kilat menyambar. Mengantarkan gelegar petir membelah perkampungan kumuh di pinggir sungai. Rumah-rumah berdinding kardus dan papan bekas berjejalan. Sempit, sesak, lembab. Daun-daun pintu bergoyang. Berderak. Seolah ada tangan hantu mempermainkan pintu-pintu itu dari luar. Angin kencang menghempas, hujan deras. Sungai meluap. Menghamburkan air kotor penuh limbah pabrik, kotoran manusia dan sampah. Barangkali kiamat akan mendatangi perkampungan kumuh itu malam ini.
"Soto daging, Mak. Soto daging," Suara igauan bersaing dengan hujan deras dan gelontor air yang menerobos melalui celah-celah atap plastik yang bocor.
Seorang perempuan paruh baya bermuka tirus, berbaju kumal dan rambut semrawut mendekap bocahnya yang mengerang, menggigil dan terus menerus mengigau. Seorang bocah yang lain duduk meringkuk di sudut. Tangannya memeluk kedua kaki yang tertekuk. Dagunya bertumpu pada lutut. Kantuk belum juga menghampirinya meski hujan telah mengusir nyamuk-nyamuk ganas dari rumah kardusnya malam ini.
"Karti harus dibawa ke dokter, Mak."
Perempuan paruh baya yang dipanggil Mak itu melonggarkan dekapan. Bangkit dari berbaring dan memeriksa kening anak perempuannya. Masih demam. Sudah seminggu ini Karti sakit panas. Bahkan beberapa kali badan bocah perempuan berusia lima tahun itu mengejang. Matanya mendelik menakutkan. Untung, kejangnya berkurang setelah dikompres berkali-kali.
"Kau belum tidur? Tidurlah, besok kau harus kerja."
Bocah di sudut itu menggeleng. Menyelonjorkan kakinya yang letih tertekuk. Membiarkan badannya menggigil kedinginan dan gelontor air hujan membasahi kakinya.
"Karti harus dibawa ke dokter, Mak," ulangnya.
Karti butuh dokter dan ingin makan soto daging. Ia, perempuan paruh baya itu menghela nafas berat. Terdiam lama. Meski perih menggerogoti lambungnya tapi ia tak mungkin bisa istirah. Tumpukan barang-barang rongsokan di depan rumah kardusnya harus dipilah-pilah agar bisa dijual esok hari. Seharian berjalan mengelilingi kota dan mengorek setiap tempat sampah yang dilewatinya membuat sendi-sendi tubuhnya dirajam letih.
Karti sakit. Demamnya tak juga mereda meski sudah diberi obat toko. Bagaimana caranya membawa Karti ke dokter? Berapa harga periksa dan obat dokter sekarang ini? Berpikir tentang beras, minyak dan garam saja sudah kelimpungan. Beban bertumpuk. BBM naik lagi. Harga-harga menggila. Anak laki-lakinya yang beranjak sebelas tahun, Udin, tak selalu pulang membawa uang dari pekerjaannya menjual plastik kresek hitam dan membawakan barang-barang belanjaan ibu-ibu di pasar. Mungkin lebih baik dibelikan cabe yang sekilo tigapuluh ribu ketimbang mengupah Udin membawakan barang belanjaan. Atau menunggu uang bantuan untuk keluarga miskin? Ah, ia tak berani banyak berharap. Ia bukan golongan orang miskin. Tapi derajatnya ada dibawah golongan orang miskin. Yakni; kere.
Angin malam kembali menghempaskan daun pintu hingga terbuka. Air hujan menyembur masuk. Karti masih mengerang. Perempuan itu beranjak menutup pintu. Hatinya mengeluh ngilu. "Kang Mardi, kapan kau pulang?"
"Kalau Bapak tak masuk penjara, pasti bisa membawa Karti ke dokter. Juga membelikan soto daging ya, Mak? Dulu, Bapak selalu pulang membawa makanan setiap hari. Aku tak percaya Bapak mencuri seperti yang dituduhkan orang-orang pasar."
Perempuan itu memandang anak laki-lakinya. Setiap bicara tentang bapaknya, bocah itu terlihat gusar, marah dan kecewa.
"Bapak hanya tukang sapu pasar, bukan pencuri. Bagaimana mungkin aku percaya pada omongan orang-orang pasar itu, Mak? Selama ini Bapak selalu mengajariku mencari uang dengan cara yang baik. Bahkan kita tak boleh mengemis."
"Tidurlah. Jangan terus bicara kalau kau ingin membawa Karti ke dokter dan membelikannya soto daging besok."
Udin terdiam. Memandangi maknya sekejap lalu membaringkan tubuhnya di lantai tanah. Merapat ke dinding kardus yang basah. Kain sarung kumal melindungi tubuh kurusnya yang terus mengigil. Matanya berkedip-kedip. Perlahan ia mencoba memejamkan mata. Hatinya berjanji. Besok, ia harus mendapatkan uang untuk membawa Karti ke dokter dan membeli soto daging!
* * *
"Sekilo limapuluh ribu, Bu. Maklumlah BBM naik, semua harga juga naik."
Hari sedang menuju senja. Gerimis masih berderai. Pasar hiruk pikuk. Semrawut. Angin lembab meruapkan bau busuk sampah yang bertumpuk. Udin menghentikan langkahnya di blok penjual daging. Berdiri mematung. Menatap seorang wanita gemuk berambut keriting yang sedang memilih daging sapi segar sambil menawar-nawar harga.
Limapuluh ribu? Meski tak tamat sekolah dasar, Udin mengerti jumlah itu tidak sedikit. Ia meraba saku celana pendeknya. Beberapa uang receh sisa membeli nasi bungkus kemarin masih di sana. "Ah, mana mungkin membeli daging dengan uang receh ini?" keluh hatinya. Sedangkan hari ini belum ada seorang pun membeli tas kresek hitamnya atau memintanya membawakan barang-barang belanjaan.
Ini hari kelima Udin sengaja melewati blok penjual daging. Memasang telinga lebar-lebar, agar bisa mendengar percakapan antara penjual daging dan ibu-ibu pembeli tentang harga daging. Tapi bagaimana ia bisa memenuhi janjinya tempo hari pada Karti jika harga daging sekilo limapuluh ribu?
"Bawakan barang saya sampai depan pasar!"
Udin masih mematung dengan tangan merabai saku celana ketika seorang lelaki menghardiknya.
"Heh! Tuli kau!? Atau tak mau uang?"
Udin hampir terjatuh di sodok lengan preman pasar yang kekar itu. Buru-buru ia menghampiri wanita gemuk berambut keriting yang tadi membeli daging. Tanpa banyak kata Udin mengangkat tiga tas belanjaan di depannya. Urat-urat di kedua tangannya yang kurus langsung bertonjolan keluar karena beban berat yang sangat. Namun Udin tak perduli. Terseok-seok ia mengikuti langkah wanita gemuk yang berjalan dengan gesit itu. Beberapa kali kaki Udin yang terbungkus plastik hitam terpeleset. Lantai tanah pasar tradisional itu licin. Genangan air hujan ada di mana-mana.
"Ini upahmu!" Wanita gemuk berambut keriting itu mengangsurkan dua lembar uang kertas kumal seribuan pada Udin.
Dua ribu rupiah? Udin mengamat-amati dua lembar uang kumal itu. Harga-harga naik begitu mahal, tapi upahnya membawakan barang-barang belanjaan tak pernah naik dari tahun ke tahun. Tetap saja dua ribu rupiah. Atau paling banyak lima ribu rupiah kalau pemilik barang yang dibawakannya penuh belas kasihan. Bayangan Karti makan soto daging dengan lahap melintasi mata Udin. Oh, berapakah harga semangkuk soto daging di warung Yu
Marti? Mungkin lima ribu atau sekarang tujuh ribu. Udin menoleh ke warung Yu Marti. Seminggu setelah BBM naik dan harga melambung, warung soto daging itu tutup. Yu Marti tak lagi kuat membeli daging untuk dibuat soto. Udin mendesah. Memasukkan dua lembar uang kumalnya ke saku celana.
"Uangku kurang empatpuluh delapan ribu lagi untuk membeli sekilo daging. Moga-moga Karti mau sabar," gumamnya lirih.
* * *
"Soto daging, Mak. Soto daging."
Karti masih terus mengigau. Tubuhnya seperti habis menelan bara. Panas tinggi. Bibirnya membiru. Kaki, tangan dan perutnya mulai kejang-kejang. Matanya mendelik. Ia, perempuan paruh baya itu hanya bisa mengompres kening Karti dengan air sungai. Digantinya sapu tangan handuk lusuh itu setiap kali mengering. Berkali-kali.
Perih dilambungnya sendiri tak diperdulikan. Perutnya dijerat tali setagen agar laparnya tak menjadi-jadi. Sudah tiga hari ia tak pergi memulung. Sakit Karti semakin parah. Dan Udin hanya bisa membawa sebungkus nasi setiap harinya untuk dimakan bertiga. Pagi dan siang mereka hanya minum rebusan air sungai.
Duh Gusti, seandainya ada seorang pemimpin menyamar seperti zaman sahabat dulu? Perempuan itu menerawang. Mengkhayal seorang penyamar datang ke rumah kardusnya. Seperti cerita yang didengarnya di surau kampung masa kecilnya lewat seorang guru ngaji. Tentang seorang pemimpin yang sering menyamar untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Lalu memberi sekarung gandum setelah tahu rakyatnya memasak batu karena kelaparan. Oh, datangkan seorang penyamar untuk menolong Karti, Gusti...
"Mak, cepat buka pintunya!"
Perempuan itu terhenyak. Benarkah penyamar itu datang? Bukankah itu suara Udin? Ia beranjak membuka pintu. Anak laki-lakinya tersenyum lebar di depan pintu. Tangan kanannya menjinjing kresek hitam. Wajahnya merah padam. Keringat mengucur di dahi, merembes ke pipi. Nafasnya tersengal-sengal. Sepertinya Udin berlari kencang agar cepat sampai rumah kardusnya.
"Mak, aku membawakan daging untuk Karti. Mungkin sekilo lebih! Tanganku sampai pegal membawanya sambil lari-lari. Tadi sepulang dari pasar, aku menemukan daging ini di angkutan. Wah, kita bisa makan daging ini untuk beberapa hari, Mak! Bumbunya juga sudah kubelikan di warung! Cepatlah Mak masak. Kasihan Karti."
Tak ada kata yang keluar dari bibir perempuan itu. Ia terdiam. Gagu. Antara gembira, sedih dan haru. Setelah memerintah Udin menjaga Karti, perempuan itu bergegas ke belakang rumah. Tempat ia biasa memasak. Dinyalakan kayu bakar. Dijerangnya air sungai dalam panci penyok. Daging dipotong-potong, dibersihkan lalu dimasukkan dalam panci. Aroma sedap mengepul menembus dinding kardus ketika daging telah masak bersama bumbu soto. Udin menelan air liurnya berkali-kali. Tubuh Karti yang mengejang mulai mereda.
"Udin, makanlah. Kau pasti sudah sangat lapar, "ujar Mak sambil menenteng panci penyok berisi soto daging ke dalam rumah. "Mak akan menyuapi Karti. Siapa tahu dia langsung sembuh."
Udin berlari mengambil mangkuk plastik di belakang rumah. Perempuan itu meniup-niup soto daging dalam piring plastik dan menyuapkan ke bibir Karti pelan-pelan. Maka, sore itu satu janji Udin telah lunas. Membelikan soto daging untuk adiknya. Tinggal satu janji lagi. Membawa Karti ke dokter.
"Ah, semoga Karti cepat sembuh dan tak perlu ke dokter," bisiknya lirih sambil merebahkan tubuh di lantai tanah. Tiba-tiba matanya sangat ngantuk. Perutnya kekenyangan setelah makan dua mangkuk soto daging yang lezat.
* * *
Nyonya Maliana blingsatan. Marah besar. Memaki-maki pembantunya. Kecantikan wajahnya yang selalu terurus salon seketika lenyap. Ia kehilangan!
"Hah!? Kau lupa menaruh tas kresek itu? Dasar tolol!"
Air mata pembantu muda itu meleleh. Ketika mampir ke pasar beberapa hari lalu, ia benar-benar lupa membawa tas kresek hitam itu turun dari angkutan. Apakah lupa itu sebuah dosa? Sia-sia ia mengatakan hal yang sejujurnya pada Nyonya Maliana. Sekarang ia memilih diam. Toh, apapun yang ia katakan, wanita itu akan terus memaki-makinya.
"Kalau sampai tas kresek itu ditemukan orang dan terjadi apa-apa, kau harus bertanggungjawab!"
"Tapi Nyonya, saya,"
"Makanya, pakai otakmu!" Nyonya Maliana mendorong kepala pembantu yang tersedu itu kasar. Seorang lelaki gendut menjelang tua, berkepala botak tertatih menghampiri mereka. Tangan kanannya menyangga perut.
"Ada apa, Ma?"
Nyonya Maliana memandang lelaki itu. "Pembantu gila itu bikin gara-gara. Tas kresek hitam milik Papa waktu itu hilang. Coba, bagaimana kalau tas kresek itu ditemukan orang dan dimantra-mantra? Sekarang kan banyak orang yang memperebutkan jabatan Papa yang basah itu?"
"Jadi kresek hitam dan isinya itu belum dikuburkan?"
Nyonya Maliana mendengus. Sang terdakwa, pembantunya, menggeleng ketakutan. Kaki dan tangannya gemetar. Sementara lelaki berkepala botak itu meraba perutnya perlahan seraya bergumam, "moga-moga, daging tumorku itu ditemukan bocah gelandangan dan dibuang ke sungai."
* Jakarta, Sept 2005

No comments:
Post a Comment