Tuesday, January 2, 2007

STASIUN

Cerpen: Tary
Sumber: Nova, Tabloid, Edisi 09/18/2006

MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Tak banyak yang berubah dari tahun ke tahun. Bocah-bocah gelandangan menggigil kedinginan, meringkuk menahan lapar. Pedagang asongan hilir mudik menghampiri penumpang, mengais rezeki. Jajaran gerbong tua tak terpakai di tepi stasiun. Kereta-kereta datang dan pergi, silih berganti seperti kehidupan.

Aku duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Bocah perempuanku itu lelap bersama mimpi masa kanak-kanaknya yang indah. Setiap ada kereta yang datang, aku berlari memburu. Dengan jeli kuperiksa penumpang yang turun dari puluhan gerbong. Berharap akan datang satu kereta. Membawa sosok yang selalu menyambangi mimpi-mimpiku. Mematahkan kebenaran kabar yang telah tersiar.

Di ujung musim hujan sewindu yang lalu, kami kembali bertemu di stasiun tua ini. Mula-mula, kulihat ia sibuk dengan teman-teman kecilnya, bocah-bocah gelandangan di pojok stasiun. Bermain tebak-tebakan menggunakan koin uang logam. Sesekali terdengar bocah-bocah itu terbahak senang. Lalu ia tersenyum menghampiriku.

"Akhirnya kita bertemu lagi," katanya.

Aku memandangnya lekat. Banyak yang berubah setelah waktu bergulir lama. Gurat-gurat kedewasaan menghiasi wajahnya. Rambut gondrongnya berderai tertiup angin lembap bulan Desember. Jemarinya sibuk merapatkan resleting jaket, seakan hendak mengusir hawa dingin yang menusuk tulang. Ia mengulurkan tangan dan aku menangkapnya.

"Menikahlah denganku," ucapnya tiba-tiba. Tegas namun lembut.

Aku tersentak. Dadaku mendadak bergejolak. Ada panah api menusuk pinggir hatiku yang paling rawan. Membuat tubuhku limbung dan menggelepar. Aku jatuh cinta lagi kepada lelaki pengelana ini.

Ia, lelaki pengelana itu, bernama Azka. Kami terlahir pada bulan yang sama, di penghujung tahun yang basah. Rumah kami berdampingan dan hari-hari kami bersamaan. Masa kanak-kanak yang indah kami lewati penuh tawa. Bermain petak umpet, bersepeda keliling kompleks dan mencuri kue-kue lezat bikinan ibu yang seharusnya kami antarkan ke pelanggan. Masa remaja yang berwarna kami lewati penuh gairah. Menggosipkan para idola sekolah, membolos karena takut pelajaran Kimia, dan mencari jati diri. Lalu, getaran-getaran aneh itu tumbuh di dadaku. Tepat ketika aku dan Azka menemukan jati diri yang sesungguhnya. Aku meneruskan sekolah, sementara Azka memilih berkelana. Menjelajahi kota demi kota mempelajari makna kehidupan.

Ada yang bergelora di dadaku setiap kali dia menemuiku sepulang berkelana. Mendengar cerita petualangannya di berbagai kota membuatku cemburu. Tetapi, aku tak punya hak mencegah kepergian Azka. Aku hanyalah seorang sahabat. Meskipun hatiku berteriak-teriak enggan ditinggalkannya, namun seperti pengertianku kepadanya; Azka terlahir sebagai pengelana.

"Apa kau pernah merasa kehilanganku?"

Ini pertanyaan mengejutkan setelah umurku merambat dewasa. Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir pengelana yang tak pernah mengerti hati seorang perempuan. Pertanyaan yang melibatkan perasaan setelah berpuluh tahun kami bersahabat. Apalah arti rasa kehilanganku bagi seorang pengelana seperti Azka? Aku tidak peduli. Seperti yang selalu kulakukan saat mengantarkan keberangkatannya mengelana dari stasiun ini.

"Aku akan pergi dengan tenang jika kau tak pernah merasa kehilanganku. Jika pun aku tak kembali menemuimu, aku tak akan merasa bersalah."

Aku terperangah. Mendung memekat, hujan semakin deras.
Ketika Azka menyandang ransel hitamnya dan menyongsong kereta yang datang, aku berdiri linglung. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kuungkapkan padanya. Tentang gelora di dadaku, tentang kecemburuanku dan tentang harapan-harapanku. Namun, bibirku hanya bergerak-gerak tanpa suara. Lidahku kelu.

Tak ada yang kulakukan selain memandangi sosok Azka menyelinap di antara hilir mudik penumpang lalu kembali muncul di jendela kereta, gerbong nomor empat. Sempat kutangkap rona muram pada raut wajahnya. Senyumnya menghilang. Bersama kereta yang bergerak menjauh, aku membalas lambaian tangannya yang terkulai, seakan terempas angin kencang.
Namun, cinta membawanya kembali ke stasiun ini. Kami menikah sewindu lalu dan membangun keluarga baru. Hari-hari kami senantiasa penuh bunga. Rentang waktu yang lama menunggu kehadiran Aini tidak membuat kami putus asa. Dan lengkaplah kebahagiaan itu ketika enam tahun kemudian Aini lahir. Gadis mungil yang cantik itu adalah malaikat kecil dalam rumah kami.

"Aku akan berkelana," kata Azka suatu malam ketika Aini sudah lelap.

"Ke mana?"

"Ke mana saja. Bukankah aku terlahir sebagai pengelana?"

Aku terdiam. Mencoba mengembalikan pengertianku tentangnya.

Azka menyentuh lenganku lembut, membujuk. "Sejak kecil, hanya kau yang mengerti bahwa aku terlahir sebagai pengelana."

"Tetapi, Aini?"

"Aku tetap Ayah Aini, katakan padanya aku pergi bekerja. Pengelanaanku kali ini memang untuk bekerja. Seorang teman menawarkan sesuatu yang menarik. Jadi jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab dengan mengirim biaya hidup kalian. Aku juga akan pulang."

"Kapan?"

"Musim hujan penghujung tahun." Azka mengembangkan senyumnya dan merengkuh bahuku.

"Aku mencintaimu dan Aini. Sungguh!"

Malam berdetak. Hatiku giris.

* * *

"KAPAN Ayah pulang dari bekerja, Bu?"

"Kenapa Ayah lama sekali pergi?"

"Apa Ayah tidak merindukan Aini?"

"Ayah akan membawa boneka beruang di hari ulang tahun Aini kan, Bu?"

"Jangan-jangan Ayah tersesat di hutan?"

"Aini akan meminta tolong Ibu Peri untuk memulangkan Ayah!"

Aku tak dapat menjawab atau membantah kata-kata Aini. Gadis kecil itu merindukan ayahnya. Dan waktu bergulir semakin lamban. Tahun demi tahun telah berlalu. Setelah mengirim sejumlah uang pada bulan ketiga kepergiannya, tak secuil pun kabar kuterima dari Azka. Bahkan alamatnya pun tak kumiliki.

Mungkin Azka terlampau sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin Azka ingin mengumpulkan uang yang banyak. Mungkin Azka ingin konsentrasi mewujudkan mimpi-mimpinya. Mungkin Azka terpikat seorang gadis menarik. Mungkin Azka memutuskan menikah dan menetap di suatu kota. Mungkin Azka telah memiliki gadis kecil lain sebagai pengganti Aini. Mungkin Azka mengakhiri pengelanaannya. Mungkin Azka telah melupakan kami. Dan, mungkin Azka…

Berbagai kemungkinan yang penuh prasangka buruk menyesakkan dadaku. Membuat bibirku ingin berteriak, "Wahai pengelana! Jika kau telah mempelajari ribuan makna hidup, seharusnya kau tahu, aku dan Aini membutuhkanmu!"

Namun, teriakanku tak pernah sampai. Waktu demi waktu terus beringsut maju. Penghujung tahun yang basah datang dan pergi tanpa peduli. Hingga orang tua Azka memutuskan pindah ke kota lain karena pensiun dan aku tak sanggup membayar kontrakan lalu pulang ke rumah orang tuaku, Azka belum juga kembali. Untuk meredakan kegundahan Aini, aku sering mengajaknya mengunjungi stasiun tua ini. Mengharapkan sosok Azka menyembul dari pintu gerbong kereta, tersenyum lebar seraya membentangkan tangan dan berteriak lantang, "Aini sayang, Ayah datang!"

Setelah letih mengungkung dan putus asa diam-diam menyergapku, kabar itu datang. Aku sedang menyiram kembang ketika loper koran cilik langganan keluarga menghampiriku pagi itu.
"Mbak, ada berita bagus. Lihat halaman depan! Polisi berhasil menangkap teroris! Hebat, bukan?"

Aku menerima koran pagi langganan keluargaku dalam diam. Kuamati sekilas sambil lalu. Seraut wajah berahang kukuh yang terpampang di halaman depan menyentakku. Dalam gambar insert, kulihat tubuh bagian bawah lelaki itu hancur. Meskipun namanya berganti, namun aku tak pernah sangsi. Ia, lelaki pengelana yang selalu kutunggu kedatangannya di musim hujan penghujung tahun!

"Apakah Ayah mengirim pesan lewat koran itu, Bu?"

Aini menghampiriku dengan senyum bocahnya yang bening. Pandanganku berkunang-kunang ketika menjangkau tubuh mungilnya. Lalu semua gelap.

* * *

MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Aku masih duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Azka pasti datang di musim hujan penghujung tahun. Aku akan terus menunggunya. Ingin kubuktikan kesetiaan dan cintaku. Meski hanya kepada jasadnya…***

Jakarta, 2005/2006

Monday, January 1, 2007

PISAU YANG BERGETAR

Cerpen: Tary
Sumber: Lampung post, Edisi 09/25/2005

AKU meraba pisau lipat yang bergetar di saku bajuku. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, kulihat seorang perempuan sedang tidur pulas. Rambut berombaknya tergerai berantakan, matanya mengatup rapat, napasnya naik turun teratur dan daster merahnya tersingkap menampakkan kulit tubuhnya yang langsat.

Aku melihat jam. Pukul sembilan malam, hari kelima ayah bertugas ke luar kota. Di luar hujan. Rumah lengang. Hanya terdengar denging nyamuk dan suara air menetes dari celah-celah genting bocor. Besok ayah pulang. Dan aku tak mau kehilangan kesempatan seperti hari-hari kemarin. "Aku harus melakukannya malam ini!"

Pisau lipat itu semakin bergetar. Permukaannya berkilat tertimpa sinar lampu. Aku menoleh ke kiri ke kanan. Memastikan tidak ada siapa pun. Kutarik napas panjang, mengusir ragu yang tiba-tiba mengepung. Hati-hati kudorong pintu dan melangkah ke dalam kamar. Mataku berkilat mencermati tubuh perempuan itu. Aku tersenyum. "Malam ini kau akan mati di tanganku! Malam ini aku akan merebut ayah dari tanganmu!"

Aku maju beberapa langkah. Mendekati pembaringan perempuan yang tak menyadari maut tengah mengintainya. Setelah mengumpulkan keberanian dan kekuatan, aku mengangkat pisau lipatku tinggi-tinggi. Tepat di atas jantungnya, pisau itu kuhujamkan. Darah muncrat.
"Awww! Aduh! Kauuu!" Perempuan itu menjerit. Matanya mendelik menatapku.

Aku tak menunggu lama. Kutarik pisau lipat itu dari jantungnya, kembali kuangkat tinggi-tinggi dan kuhujamkan dengan kekuatan penuh. Dua kali! Tiga kali! Empat kali! Lima kali! Dan entah sampai berapa kali lagi pisau lipat itu menembus jantungnya. Hingga isi perut perempuan itu terburai. Darah menganak sungai membasahi sprei dan tubuhku sendiri terkulai. Terduduk di tepi pembaringan. Namun aku gembira. Dadaku berbunga-bunga. Setelah ini, tak ada lagi orang yang merenggut ayah dari sisiku. Setelah ini, aku bebas bercerita dan bermanja pada ayah seperti dulu. "Pergilah ke neraka, perempuan penghalang!"

***

"PEJAMKAN matamu Lini, malam sudah larut" suara ayah begitu lembut. Menyusupi gendang telingaku, meresapi kalbuku. Tapi, aku belum ingin memejamkan mata. Aku merajuk pada ayah. Minta didongengi kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan.

"Kolokan sekali kau ini Lini. Kau sudah kelas tiga SD sekarang. Tak pantas mendengarkan dongeng lagi." Ayah menjentik hidungku gemas dan mulai mendongeng. Aku memejamkan mata. Menikmati alur dongeng yang sangat kusuka. Ketika ayah mengakhiri dongeng itu, aku minta diulang.

"Kenapa kau sangat menyukai dongeng itu, Lini?"

"Karena Jaka Tarub itu ayah dan Dewi Nawangwulan itu ibu. Bukankah ibu juga pergi ke langit ketika aku masih bayi?"

Ayah menghela napas berat. Matanya mendadak berkaca-kaca dan menatapku iba. Tangannya mengusap rambutku. "Tidurlah, Lini. Kau akan bertemu ibumu dalam mimpi. Besok malam, ayah akan mengulang dongeng kesukaanmu itu sebelum tidur."

"Besok, aku juga punya banyak cerita untuk ayah. Tentang teman-teman sekolahku yang nakal, tentang guruku yang tertidur di kelas dan mukanya ditutupi buku, tentang kucing belang piaraan kita, tentang nilai-nilai ulanganku yang selalu sembilan dan tentang mimpiku bertemu dengan ibu"

Ayah mengangguk-anggukkan kepala lalu membenamkan kepalaku dalam dadanya. Aku merapat. Memejamkan mata. Menikmati kembali rasa nyaman dan aman dalam pelukan ayah. Terlelap, tanpa penghalang. Malam ini aku benar-benar bahagia. Berhasil membunuh perempuan itu. Menyingkirkannya dari kehidupan ayah.

"Lini! Bangun kau! Jadi perempuan tak boleh pemalas!"
Gelegar suara itu membangunkan tidurku dengan paksa. Aku terperanjat, buru-buru bangkit dari pembaringan. Kukucek mataku. Mencari ayah yang semalam memelukku. Namun tak kutemukan. Di depan pembaringan berdiri perempuan itu. Daster merah, rambut berombak dan sepasang mata penuh ancaman! Bukankah perempuan itu sudah kubunuh semalam? Kenapa dia hidup lagi pagi ini?

"Heh! Cepat turun dari pembaringanmu! Lihat, jam berapa sekarang!? Kau tak boleh pergi ke sekolah sebelum semua urusan rumah beres!"

Aku melihat jam. Pukul lima pagi, udara teramat dingin. Tubuh kurusku menggigil. Kedinginan, ketakutan. Terseok-seok aku menuju dapur. Menjerang air, mencuci piring, menyapu lantai, mencuci pakaian. Perempuan itu mendengkur lagi. Baru terbangun ketika ayah mengetuk pintu. Rupanya ayah baru pulang dari luar kota.

"Dari sana jam berapa, Mas? Tumben sepagi ini sudah sampai? Aku siapkan air panas untuk mandi, ya? Biar capeknya cepat hilang. Setelah mandi, baru kupijit sambil tiduran. Oya, oleh-olehmu banyak sekali? Aduh, terima kasih. Mas baik sekali padaku. Kain tenun, cincin perak, cindera mata, kue-kue."

Perempuan itu terus berkicau. Membuka-buka tas ayah, mengeluarkan berbagai barang oleh-oleh dan menimang-nimang dengan mulut menyeringai. Kulihat ayah tersenyum, mengangguk dan sesekali menguap karena ngantuk dan mungkin kecapekan. Sebenarnya, aku butuh tanda tangan ayah di rapor pagi ini. Tapi, ayah seperti tak melihatku. Aku ada di dekatnya, tapi seperti tiada. "Ah, besok saja aku minta tanda tangan ayah. Belum terlambat jika kutunda sehari."

Aku segera mengenakan kaus kaki dan sepatu. Menyambar tas sekolah dan bersiap berangkat. Ketika hendak berpamitan, perempuan itu sibuk memeluk pinggang ayah dan membimbingnya ke kamar.
Dadaku berdesir. Gigiku gemeletuk menahan marah. Tiba-tiba pisau lipat di saku baju merahku kembali bergetar. "Kau boleh hidup lagi pagi ini, tapi malam nanti pisau lipatku tak akan membiarkanmu hidup!"

Aku berbalik. Berlari sekencang-kencangnya meninggalkan halaman. Pisau lipat di saku bajuku semakin bergetar. Tak sabar menunggu pagi berganti malam. Waktu yang selalu kutunggu untuk menyingkirkan perempuan penghalang itu dari sisi ayahku.

***

KOMPLEK pemakaman itu ada di pinggir jalan. Selama lima tahun melewati kawasan itu, setiap pagi dan sore dalam perjalanan pulang pergi ke kantor, tak ada yang menarik perhatian Rayan. Hamparan nisan yang sunyi, orang-orang berziarah, penggali kubur yang sibuk dengan liang lahat, kerumunan orang yang mengubur kerabatnya juga sepasang suami istri penjual bunga di pintu pemakaman. Semua biasa-biasa saja. Tak ada yang istemewa.

Tapi, sebulan terakhir ini Rayan melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Yang membuat ia sengaja melambatkan laju mobilnya setiap melintasi komplek pemakaman. Seorang gadis bersimpuh khidmat di depan sebuah pusara setiap pagi atau sore hari. Kalau Rayan tidak melihat gadis itu mengunjungi pemakaman pada pagi hari, maka sore harinya gadis itu pasti berada di sana. Raut wajahnya tak begitu jelas. Hanya sosoknya yang semampai dan terbalut baju panjang terlihat anggun. Membuat Rayan penasaran.

"Makam siapa yang berada di ujung sana, Pak?"

Lelaki tua penjaga makam itu mengerutkan dahi. Seperti
mengingat-ingat. Lalu menatap Rayan dengan wajah menyelidik. Siang bolong begini mengunjungi makam hanya untuk bertanya. Siapa yang tak merasa aneh? Rayan mengalihkan pandangan. Jengah.

"Makam Pak Suardi, pensiunan pejabat kabupaten. Mas kenal beliau?"

Rayan menggeleng. "Kalau gadis yang setiap pagi dan sore mengunjungi makam itu, putrinya?"

"Mungkin saja. Kurasa gadis itu gila. Setiap hari pergi ke kuburan hanya untuk ngobrol dengan nisan. Raut muka orang kalau pergi ke kuburan biasanya sedih, bukan? Tapi gadis itu malah tersenyum-senyum senang. Seperti habis bertamu ke rumah orang yang masih hidup saja." Rayan tertegun. Semakin penasaran.

"Kalau tak percaya, Mas lihat saja sendiri nanti sore. Pagi ini dia tak datang. Sayang ya, cantik-cantik gila. "Lelaki tua itu menggeleng-gelengkan kepala. "Saya kerja dulu Mas, pagar depan makam rusak dan harus saya ganti. Mari."

Setelah mengucapkan terima kasih, Rayan mempersilakan lelaki tua itu pergi.
Kepalanya dipenuhi beribu tanya ketika kembali ke kantor. Siapa sebenarnya gadis itu? Apa benar dia gila? Kasihan sekali kalau benar demikian. Rayan menggaruk kepalanya. Sosoknya yang semampai dan cara berpakaiannya yang anggun membayang di pelupuk matanya. Ah, kenapa ia menjadi begitu perhatian pada gadis itu? Kenal juga tidak. Apa perdulinya?
Tapi Rayan memang perduli pada gadis itu.

Suatu sore, ia memutuskan untuk membuntuti gadis itu dengan pura-pura berziarah ke makam di sebelah gadis itu bersimpuh. Sambil menabur bunga, Rayan memasang telinga. Ia belum berani menatap langsung wajah gadis itu.

"Ayah, bagaimana kabarmu sore ini? Aku punya kabar gembira untuk Ayah."
Gadis itu tertawa kecil lalu menggeser duduknya. Jemari tangannya mengelus nisan. Rayan pura-pura khusuk berdoa ketika gadis itu memandangnya sekilas.

"Kemarin, sepulang dari sini aku dapat kabar melalui telepon. Novelku akan diterbitkan! Dan Ayah tahu nggak siapa tokoh dalam novel itu? Nggak tahu, kan? Tokoh dalam novel itu adalah ayah! Ha ha ha"

"Tapi jangan khawatir, aku menuliskan yang bagus-bagus tentang ayah. Padahal ayah terkadang menyebalkan juga. Ayah suka pura-pura mendengkur di telingaku, suka mengganggu tidurku dini hari dan suka memelukku di depan teman-teman sekolah. Membuatku malu. Huh!"
Rayan sibuk mencabuti rumput ketika gadis itu menghentikan kata-katanya.

"Ayah, aku senang kita bisa bicara lagi seperti ini tanpa penghalang. Tapi aku tak punya waktu banyak sore ini. Aku harus menyelesaikan beberapa tulisan. Sampai besok ayah"

Gadis itu beranjak setelah mencium nisan. Rayan memberanikan diri mengangkat wajah, menatap gadis itu. Kulitnya langsat, matanya sendu dan wajahnya dingin tanpa senyum. Baju panjangnya berkibar tertiup angin pekuburan. Mendadak Rayan tersentak.

"Lini! Kaukah ini?"

Gadis itu berbalik mendengar namanya dipanggil. Kilasan masa silam berputar di benak Rayan. Lini adalah cinta pertamanya semasa SMA. Gadis yang sangat tertekan oleh perlakuan buruk ibu tirinya. Ibu kandungnya meninggal ketika Lini bayi dan ia kehilangan ayahnya setelah kehadiran ibu tiri. Sejak itu, Lini selalu mengantongi pisau lipat dan berkhayal membunuh ibu tirinya setiap malam. Dengan khayalan itu Lini bertahan hidup.

Hanya pada Rayan ia membagi beban. Hanya dengan Rayan, Lini bisa sedikit tersenyum. Sampai bangku kuliah memisahkan mereka. Kabar terakhir yang didengar Rayan, Lini menjadi penulis dan menetap di Jakarta. Tapi, kenapa Lini sekarang berada di kota ini?

"Apa kabar? Kau ada di kota ini?" tanya Rayan gugup. Ia tak menduga akan bertemu kembali dengan Lini. Gadis yang masih terus bercokol dalam hatinya.
Lini menatap nisan ayahnya.

"Ya. Aku bahagia bisa ngobrol lagi dengan ayah. Sekarang aku memiliki ayah seutuhnya tanpa harus takut orang lain merampasnya dari sisiku."
Rayan mengerutkan dahi. Tak mengerti.

"Kau ingat pisau lipatku dulu, Rayan?" Lini merunduk dan meraba permukaan tanah beberapa jengkal di samping pusara. "Aku menguburkan pisau lipat itu di sini. Aku tidak perlu berkhayal membunuh lagi untuk bisa ngobrol dengan ayah."

"Tapi Lini, bagaimana mungkin kau ngobrol dengan..."

"Orang-orang menganggapku gila," sahut Lini sambil tertawa kecil, "Mereka tidak tahu bahwa aku benar-benar ngobrol dengan ayah. Bahkan ayah selalu menunggu kedatanganku.
Mengajakku bicara dan bercanda."

Angin senja yang lembab berhembus. Dingin. Sedingin wajah Lini yang berlalu tanpa senyum. Bulu kuduk Rayan berdiri. Keharuan, kengerian dan rasa prihatin menjalari dadanya. Namun ia tak kuasa mencegah langkah Lini yang terus menjauh. Meninggalkan penggalan episode hidup yang buram.

Jakarta, 140905, 22.30