Monday, June 18, 2007

Mawar dan Ilalang

Post: 06/13/2007
Cerpen: Tary

Sumber: Suara Pembaruan,
Edisi 06/10/2007


Senja hampir selesai. Matahari serupa bola merah yang menggelinding ke balik bukit. Meninggalkan jejak jingga pada lengkung langit barat. Aku berdiri di depan jendela. Memandang rumpun mawar yang meremang di hadapanku. Mendadak ada mata pisau yang menghunjam dadaku.

"Kuncup mawar ini akan mekar dan mengharumkan kamarmu," katamu suatu senja, seusai menanam rumpun mawar di bawah jendela kamarku.
Aku meneliti kedua liang matamu. Ketulusan tampak benderang di sana. Kau tersenyum, menepuk-nepuk telapak tanganmu yang penuh tanah lalu menyeka peluh yang menetes di pelipismu.

"Kau yakin mawar itu akan mekar?" tanyaku ragu.

Sekilas mendung melintasi wajahmu. Kau menunduk, menghela nafas berat lalu berucap lirih, "kuharap begitu. Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya."

Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya....
Aku selalu mengulang kata-katamu itu setiap malam menjelang tidur. Sejak kecil, aku tak pernah menyukai bunga. Apalagi mawar yang penuh duri, terlihat cantik namun mudah melukai. Menurutku, ilalang lebih menawan ketimbang semua jenis bunga. Tampak tegar tanpa kesan menggoda.

Namun, setahun terakhir kau tak pernah absen mengirimiku mawar setiap senja akhir minggu. Bahkan sudi bersusah payah menanam rumpun mawar di bawah jendelaku. Tidakkah kau tahu? Membuat seseorang menyukai sesuatu yang tidak disukainya seperti menunggu pohon mangga berbuah kecapi. Aku tak sampai hati mengatakan itu padamu. Kuterima mawarmu setiap senja akhir minggu, kumasukkan ke dalam vas di pojok kamar lalu kubiarkan layu. Kelopak-kelopaknya mengering berguguran.

"Rawatlah mawar itu agar mekar," pintamu.
Aku memandang rumpun mawar di bawah jendela. Bimbang.

u

Apakah aku sanggup merawat mawarmu? Sedangkan sampai hari ini kubiarkan ilalang pemberiannya tumbuh liar di halaman rumahku. Masih kukenang pertemuan pertamaku dengannya. Suatu pagi berkabut ketika aku menyusuri jalan setapak di kaki bukit. Ia datang menghampiriku dengan senyum mengembang. Tangan kanannya mengulurkan seikat ilalang.

"Kau suka ilalang, bukan?"
"Siapa kau?"
"Aku seorang pengelana yang mencintai ilalang."
"Kenapa kau mencintai ilalang?"
"Karena ilalang mengajariku ketegaran."
Aku menyukai jawabannya.
"Kau sendiri kenapa menyukai ilalang?"
"Karena terlihat tegar tanpa kesan menggoda."
Kau tersenyum, mengerling. "Alasan kita sama."
"Ya, sama."

Tak butuh banyak waktu untuk membiarkan ilalang itu tumbuh. Hanya tiga kali siram, daun-daunnya mulai tegak menghijau. Lalu beberapa bulan kemudian tumbuhan itu merajalela. Memenuhi halaman depan dan belakang rumahku. Bahkan ilalang-ilalang itu tumbuh di tengah batu padas samping rumahku. Daunnya yang panjang menjulang ke udara dan sesekali bergerak gemulai tertiup angin, seolah ingin mengatakan "hei manusia, kenapa kalian putus asa? Lihatlah aku, tumbuhan yang tak pernah menyerah pada kesulitan hidup!" Dan aku benar-benar jatuh cinta.

Waktu yang bergulir menjadi milikku, miliknya dan ilalang. Banyak hal menarik kami jalani bertiga. Kami merasa hari-hari adalah pembelajaran. Kami tahu hari-hari semakin tumbuh dewasa. Kami ingin hari-hari tak akan pernah berakhir. Hingga suatu ketika ia datang padaku dengan raut wajah tak biasa. Sebuah ransel hitam menggelayut di punggungnya.

"Aku akan pergi," katanya.
"Mengapa kau pergi?"
"Pengelana selalu pergi ke tempat yang berbeda."
"Apa kau akan kembali?"
"Aku tidak tahu."

Mendadak ada mata pisau yang melukai dadaku. Ia akan pergi setelah memenuhi halaman rumahku dengan ilalang. Tumbuhan kesukaanku dan kesukaannya. Diam-diam aku memaki dalam hati. Mengapa ia harus pergi? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku dan ilalang tak ingin kehilangannya? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku tak bisa bertahan tanpa dirinya? Apakah ia pernah berpikir bahwa rasa telah menyelinap?

"Ilalang-ilalang itu akan menjagamu. Kau tak perlu merawatnya, namun ia akan tetap hidup di halamanmu."

Dan ilalang itu memang tak pernah mati. Bertahun-tahun setelah kepergiannya yang tanpa kabar, halaman rumahku semakin penuh dengan ilalang. Sampai kemudian ibu risih melihatnya.
"Ilalang-ilalang itu menjadikan halaman rumah kita seperti hutan. Ibu akan mencabut dan membakarnya."

Aku tak bisa menyanggah kata-kata ibu. Halaman rumah kami memang sudah menyerupai hutan. Ilalang liar tumbuh di mana-mana memenuhi setiap sudut halaman. Meski sedih, aku membiarkan ibu mencabut, membakar dan membuang abu ilalang itu ke tempat semestinya. Namun, tak kubiarkan ibu mencabut sebatang ilalang yang tumbuh di bawah jendela kamarku. Sampai kemudian kau datang menanam serumpun mawar di samping ilalang itu. Memintaku membiarkan mawar itu hidup dan merawatnya.
Apakah aku bisa menyukai mawarmu seperti ilalangnya?
u

"Mawar adalah bunga yang luar biasa, kau harus merawatnya," kata ibu ketika melihat rumpun mawar di bawah jendela kamarku. "Sayang sekali, ilalang ini akan merusak kecantikan mawarmu."
Tangan ibu terulur hendak mencabut sebatang ilalang di samping rumpun mawar. Aku menarik tangan ibu.

"Biarkan ilalang itu tetap hidup, Bu."
"Tetap hidup untuk membunuh rumpun mawar itu? Jarak keduanya sangat dekat, akar ilalang itu akan menjalar dan merusak rumpun mawarmu."
Aku menggeleng. "Mereka akan tumbuh bersama-sama."
"Sampai kapan kau akan mempertahankan ilalang itu?"

Aku membuang pandang dari tatapan ibu yang tajam, menghela nafas berat lalu menjawab lirih, "sampai waktunya tiba..."
Sampai waktunya tiba...

Namun waktu itu tak juga tiba. Waktu yang kuharapkan membawa ia kembali dengan seikat ilalang. Waktu yang akan kujadikan alasan untuk tetap membiarkan sebatang ilalang itu hidup. Waktu yang tepat untuk mengatakan padamu bahwa aku tak pernah menyukai bunga mawar.
Dan ibu mulai melibatkan diri mengurus mawar di bawah jendela itu. Setiap pagi dan sore menyiramnya dengan seember air. Setiap minggu menyiangi dan memotong batang-batangnya yang mengering. Bahkan ibu membelikan pupuk khusus untuk mawar itu. Perlahan batang mawar yang hampir mati itu menghijau dan bertunas. Ada kuncup-kuncup bunga di pucuknya.

"Terima kasih telah merawat rumpun mawar itu," katamu.
Aku ingin mengatakan bahwa yang merawat rumpun mawar itu adalah ibu, namun lidahku berubah kelu melihat ketulusan yang benderang di kedua liang matamu. Seharusnya aku belajar menghargai ketulusanmu.
"Sebentar lagi mawar itu akan mekar," katamu lagi penuh semangat. "Sekuntum mawar merah yang anggun, seperti yang kuberikan padamu setiap senja akhir minggu. Dan kuharap kau menyukainya."
"Ibu sangat menyukai mawar itu, tapi..." aku menghentikan kata-kataku, meyakinkan diri sendiri, apakah aku akan benar-benar mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukai mawar? Sanggupkah aku menodai ketulusanmu?

"Perempuan memang selalu menyukai mawar," sahutmu, tersenyum percaya diri. "Kita tunggu sampai kuncup-kuncup mawar itu mekar."
Beberapa minggu lagi kuncup-kuncup mawar itu sepertinya benar-benar akan mekar. Dan waktu yang kutunggu tak juga tiba. Mungkin ia tak akan pernah datang membawa seikat ilalang. Sementara sebatang ilalang di samping rumpun mawar itu mulai menguning. Daun-daunnya yang biasanya tegak, kini terkulai layu. Ilalang itu tak lagi mampu menjagaku.
"Ilalang ini sudah mati, bolehkah Ibu mencabutnya?" tanya ibu suatu sore ketika hendak menyiram rumpun mawar di bawah jendela.
Aku menggigil. Benarkah sebatang ilalang itu telah mati? Dan ibu akan mencabutnya, menyingkirkan ke tempat sampah lalu membakarnya. Ilalang terakhir yang kumiliki, benarkah ia telah mati?
"Lihat! Mawar merah itu telah mekar! Kau akan menyukainya!" kata ibu esok paginya setelah mencabut sebatang ilalang terakhir yang mati.
Dan mawar itu benar-benar mekar. Kini, dari depan jendela tempatku berdiri, aku bisa melihat kelopak-kelopak mawar merah yang anggun bergoyang dalam remang cahaya petang. Aku suka melihat mata ibu berbinar bahagia. Aku senang melihat ketulusanmu benderang tak ternoda. Namun jauh di dasar hatiku aku masih selalu bertanya-tanya.
Apakah suatu ketika nanti aku bisa menyukai mawarmu?***

Telaga Sarangan196, 15.03.07

Wednesday, June 13, 2007

Hujan Februari

Cerpen: Tary
Sumber: Seputar Indonesia,
Edisi 04/29/2007

Akhirnya ia memutuskan pulang. Angin sore bulan Februari terasa pekat menampar wajahnya. Langit masih memuntahkan hujan ketika ia turun dari taksi. Seorang bocah laki-laki menawarkan payung padanya.

Kurus, hitam, bertelanjang kaki dan menggigil kedinginan. Mata tajam bocah itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merogoh saku jaketnya, mengangsurkan selembar uang dan berlari menyeberangi halaman mal.Bocah laki-laki itu tertegun memandangnya. Ia mengibaskan pakaian dan rambut yang basah lalu melangkah memasuki mal.

Tubuhnya menggigil oleh terpaan udara pendingin ruang. Mendadak kulitnya terasa mengeriput.Setelah memeriksa denah tiap lantai tak jauh dari pintu masuk,ia memutuskan naik menggunakan lift. Salah satu kafe di lantai 3 menjadi pilihannya. Dari celah sekat ruangan berbahan rotan, ia melihat ke dalam kafe.Ada tiga orang sedang duduk di sana. Sepasang muda-mudi yang asyik bergenggaman tangan dan seorang lelaki yang menghirup secangkir minumannya lambat lambat.

Ia mengambil meja di pojok, dekat pot tanah liat berisi bunga asli berdaun hati. Bersisian dengan dinding kaca, membuat ia leluasa melihat pemandangan di seberang mal. Pelayan menghampiri dan mengulurkan daftar menu. Ia memesan segelas cappucino panas dan muffin. Silk Road Kitaro mengalun lembut ketika pandangannya menembus dinding kaca.Hujan makin lebat. Sampah menyumbat got. Air meluap membentuk aliran sungai kecil. Pengendara motor menyerobot jalan, melindas kubangan-kubangan air. Seorang perempuan mengumpat, blousenya basah terciprat air kotor.

Semua telah berubah, pikirnya. Kafe tempatnya duduk sekarang hanyalah sebagian kecil dari pemukiman yang telah berganti bangunan megah bernama mal. Ia pernah berada di pemukiman seberang mal bersama keluarganya. Sebelum tahun-tahun lewat meninggalkan jejak luka pekat dan sesal memburunya. Pelayan datang mengantarkan menu pesanannya.Ia menepikan tangan memberi tempat untuk segelas cappucino panas dan piring kecil muffin.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan, ia tak membiarkan aroma cappucino panas menggodanya lebih lama.Beberapa tegukan membuat tubuhnya sedikit menghangat.

Matanya kembali menembus dinding kaca. Bocah laki-laki pembawa payung berdiri di seberang jalan. Payung dibiarkan menguncup dan kepala mungil itu mendongak menatap kafe. Buru-buru ia membuang pandang,mengatur detak jantungnya yang makin cepat lalu mengiris muffin. "Kenapa sesal tak segera membunuhku?" keluhnya lirih. Ada melata yang menggeliat di ulu hatinya. Gigitan taring berbisa menimbulkan rasa pedih dan mual silih berganti. Ia mengerang mencengkeram perutnya. Mata bocah laki-laki itu masih tajam menatapnya. ***

Alifa kecil tak pernah menyukai hujan bulan Februari. Banyak hal terenggut dari hidupnya pada hujan bulan Februari. Banjir pernah menenggelamkan permukiman tempatnya tinggal. Kelinci putih kesayangannya mati terseret arus. Alifa menangis berjam-jam melihat tubuh kelincinya basah dan membeku di selokan ujung gang. Usai banjir,ia mengubur kelincinya di belakang rumah dan mengunjungi setiap pulang sekolah. Sahabat dekatnya juga pergi pada hujan bulan Februari. Kapal yang ditumpangi sepulang mengunjungi neneknya tenggelam.
Jasadnya tak ditemukan. Alifa tak tahu ke mana mencari perkuburan sahabatnya. Lalu ayah dan ibunya mengajaknya ke laut.Berdoa dan menabur bunga sebagai tanda duka cita.

Tetapi,Ayah dan Ibunya sangat menyukai hujan bulan Februari.Pada penghujung bulan basah itu bayi laki-laki lahir dari rahim ibunya.Orang-orang begitu heboh. Mereka berdatangan membawa bermacam-macam hadiah. Memandang bayi mungil itu dengan mata berbinar. Aduh, gantengnya putramu, selamat-selamat! Dia akan menjadi mataharimu. Kata orang-orang itu. Semua bersukacita.

Kelahiran bayi laki-laki seolah membawa sejuta tuah. Dan Alifa merasa tersisih.
"Lihat Ruru! Mereka hanya memedulikan Bara!" Alifa mengadu pada boneka beruang dalam pelukannya.
"Mereka tak menyayangiku lagi!" Bayi laki-laki itu bernama Bara.
Ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa setiap melihat sosok Bara. Seharusnya ia menyayangi adiknya. Tetapi sesuatu yang menggeliat itu mengatakan sebaliknya.

Alifa tak suka Bara menggeliat manja di pelukan ibu. Alifa tak suka ayah mengangkat tinggi-tinggi tubuh Bara. Dan Alifa tak suka nenek mengajak Bara bercanda. "Alifa, ambilkan celana adik di kamar belakang!" "Alifa, belikan biskuit untuk adik!" "Alifa, tolong jaga adik sebentar!" Alifa cemberut. "Lihat Ruru! Bara membuat semua orang menyuruhku!" Boneka beruang itu memandang Alifa tanpa berkedip. Hingga Alifa berteriak. "Aku benci hujan Februari! Aku benci Bara!" ***

Silk Road telah berganti The Clouds. Ia mengunyah irisan muffin-nya lambatlambat sambil berharap Ocean Of Wisdom mengalun berikutnya. Ia menyukai semua koleksi Kitaro, namun Ocean Of Wisdom mampu mengirim debur ombak ke hadapannya saat ia menginginkan.Ah, dramatis sekali kesukaanku pada musik, pikirnya. Hujan masih deras. Air got meluber ke tengah jalan, sungai kecil melebar.

Kubangan-kubangan makin penuh air dan kemacetan mulai menggila. Apa yang berbeda dari hujan bulan Februari? Ia mendesah, mendongak menatap langit- langit kafe.Kecuali mal yang berdiri angkuh merenggut semua resapan air. Seorang pemuda melangkah memasuki kafe. Berkulit sawo matang, jangkung dan berambut lurus. Jaket hitam membungkus baju seragam sekolahnya. "Mungkin pulang sekolah dan terjebak macet," tebaknya.

Pemuda itu mengambil meja di sebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan sejumlah menu. Berapa umur pemuda itu? Enam belas atau tujuh belas? Jika demikian, ia kelihatan lebih dewasa dari umur sesungguhnya. Gerak-geriknya tanpa canggung dan ia tidak ke kafe bersama kelompoknya.

Mungkin pemuda itu lebih suka melakukan segala sesuatunya seorang diri. "Seharusnya ia sudah sebesar pemuda itu," bisiknya. "Dan mungkin akan tampak dewasa seperti itu. Bukankah sejak kecil ia sangat mandiri?" Matanya bersirobok dengan tatapan pemuda itu. Ia membuang pandang menembus dinding kaca. Di seberang mal, bocah pembawa payung berlari-lari kecil mengejar si penyewa payung. Ia merasa pipinya mulai basah. Melata di ulu hatinya menggeliat, taring-taringnya kembali menghunjam lebih dalam. "Kumohon, bunuhlah aku sekarang juga," rintihnya. ***

Bara kecil tumbuh sehat. Kulitnya sawo matang, rambutnya tebal berponi dan matanya bulat jernih. Semua orang menyukai Bara.Alifa tahu itu.Bara yang mandiri dan tak suka merepotkan pembantu. Bara yang jago matematika.Bara yang selalu juara kelas.Bara yang selalu menghibur ayah dan ibu dengan leluconnya. Segala tentang Bara adalah kebanggaan.Alifa tahu itu. "Mengalahlah sedikit pada adikmu Alifa! Kau sudah besar!" "Kau selalu memulai keributan, Alifa!"

"Menyingkirlah sana! Biarkan adikmu sendiri!" Alifa mencoba menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya dengan berbuat nakal. Ia berharap orang-orang akan mengembalikannya pada posisi sebelum ada Bara.Tetapi itu adalah kesalahan.Tak ada yang tertarik dengan kenakalan Alifa. Tak ada yang simpati dengan kelakuan Alifa. Dan Bara selalu menang.Akhirnya Alifa tahu satu hal. Ia tak akan pernah kembali ke posisi sebelum ada Bara. Maka Alifa semakin membenci hujan bulan Februari. Tak hanya semua kesayangannya terenggut hujan bulan Februari tetapi juga dirinya. Ia merasa terampas.

Alifa kemudian memilih menyendiri di kamarnya. Berbicara pada Ruru.Ayah dan ibu menganggap Alifa baik-baik saja.Ah,hanya siklus hormonal masuk usia remaja, begitu pikir Ayah dan Ibu. "Alifa, temani adikmu main di luar!" perintah Ibu. Hujan bulan Februari datang lagi. Alifa cemberut. Kenapa Ibu tak pernah mengerti bahwa ia tak suka hujan bulan Februari? Musim hujan begini, Alifa lebih suka mendekap Ruru sambil mendengarkan musik di kamar. "Dingin Bu, aku malas." "Ayolah! Kau harus mencoba hal-hal menyenangkan di luar rumah. Jangan memeluk boneka beruangmu terus, ia tak bisa memberimu pengetahuan."

Alifa bangkit dari duduk ketika Bara berlari ke halaman. Ia harus menemani anak itu kalau tak ingin ibunya ngomel sepanjang hari.Di luar langit gelap.Gerimis mulai turun rintik-rintik. Alifa menyambar payung dan mengikuti langkah Bara bergabung dengan teman-teman kecilnya. Bocah tujuh tahun itu berlari-lari kecil.Alifa terus mengikuti adiknya. Tiga jam berlalu dan Bara masih bermain. Alifa menepi di depan proyek pembangunan sebuah mal,melihat adiknya dari sana. Langit membabi buta menumpahkan hujan.

Beberapa anak telah dijemput ibunya. Tinggal Bara bermain bola di genangan air yang meninggi.Tiba-tiba air datang bergulung-gulung dari arah sungai. Seharusnya Bara masih sempat menepi, jika Alifa menginginkannya.Tetapi ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa. Sesuatu yang menginginkan hal sebaliknya. Alifa berdiri beku di bawah payung. Alifa melihat air datang bergulunggulung. Alifa melihat orang-orang menjerit menunjuk ke arah Bara.Alifa melihat bola adiknya menjauh terbawa arus.

Alifa mendengar suara Bara memanggilnya. Dan Alifa melihat tangan mungil Bara menggapai-gapai ke udara. Makin menjauh, lalu lenyap tanpa jejak. Tiga hari kemudian, jasad Bara ditemukan di selokan ujung gang. Persis kelinci putih kesayangan Alifa. Ibu menangis bertahun-tahun.Sampai air mata dan tubuhnya kering, lalu meninggal setahun setelah Bara hanyut. Ada yang merambat perih di dada Alifa.Sesal yang memburu.
Setiap saat hampir membunuhnya.

"Sekarang tinggal kita berdua Alifa," kata ayahnya tersendat. Alifa tak kuasa menahan sesal. Rumahnya meninggalkan banyak bayangan Bara. Alifa memutuskan kuliah di kota lain, meninggalkan ayahnya sendiri. Mungkin, Alifa tak akan pernah pulang ke kotanya. Dan itulah yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Alifa menghapus semua jejak yang dapat dilacak ayahnya. ***

Taring melata itu menancap kian hebat. Ulu hatinya mulai berdarah. Ia menikmati rasa sakit itu.Wajahnya seputih kapas, namun ia masih membeku menatap pemukiman seberang mal. Apakah lelaki itu masih di sana? Menunggu kepulangannya? Tangannya tak bergerak mencari obat pereda sakit dalam tasnya. Ia ingin mati saat ini. Air di jalanan mulai meninggi.Aliran sungai dan kubangan menyatu. Orangorang menepi,meninggalkan mobil atau motornya yang tenggelam. Banjir semakin hebat ketika bergulung-gulung air datang dari arah sungai.

"Mbak, kafe akan segera ditutup. Banjir datang lagi," kata pelayan sopan. Ia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan kafe. Pemuda berjaket hitam tak ada lagi di meja sebelah. Semua pengunjung telah pergi.Perlahan ia bangkit dari duduknya, berjalan keluar kafe menuju lift. Semua orang menyelamatkan diri ke lantai atas. Tetapi ia memencet tombol bertanda turun. Ia ingin menyongsong air yang bergulung. Menemui Bara. ***

Telaga Sarangan, 5.2.07

Thursday, January 18, 2007

DAGING

Cerpen: Sri Lestari
Sumber: Suara Karya, Edisi 01/29/2006

Langit malam buram. Menangis. Kilat menyambar. Mengantarkan gelegar petir membelah perkampungan kumuh di pinggir sungai. Rumah-rumah berdinding kardus dan papan bekas berjejalan. Sempit, sesak, lembab. Daun-daun pintu bergoyang. Berderak. Seolah ada tangan hantu mempermainkan pintu-pintu itu dari luar. Angin kencang menghempas, hujan deras. Sungai meluap. Menghamburkan air kotor penuh limbah pabrik, kotoran manusia dan sampah. Barangkali kiamat akan mendatangi perkampungan kumuh itu malam ini.

"Soto daging, Mak. Soto daging," Suara igauan bersaing dengan hujan deras dan gelontor air yang menerobos melalui celah-celah atap plastik yang bocor.

Seorang perempuan paruh baya bermuka tirus, berbaju kumal dan rambut semrawut mendekap bocahnya yang mengerang, menggigil dan terus menerus mengigau. Seorang bocah yang lain duduk meringkuk di sudut. Tangannya memeluk kedua kaki yang tertekuk. Dagunya bertumpu pada lutut. Kantuk belum juga menghampirinya meski hujan telah mengusir nyamuk-nyamuk ganas dari rumah kardusnya malam ini.

"Karti harus dibawa ke dokter, Mak."

Perempuan paruh baya yang dipanggil Mak itu melonggarkan dekapan. Bangkit dari berbaring dan memeriksa kening anak perempuannya. Masih demam. Sudah seminggu ini Karti sakit panas. Bahkan beberapa kali badan bocah perempuan berusia lima tahun itu mengejang. Matanya mendelik menakutkan. Untung, kejangnya berkurang setelah dikompres berkali-kali.

"Kau belum tidur? Tidurlah, besok kau harus kerja."

Bocah di sudut itu menggeleng. Menyelonjorkan kakinya yang letih tertekuk. Membiarkan badannya menggigil kedinginan dan gelontor air hujan membasahi kakinya.

"Karti harus dibawa ke dokter, Mak," ulangnya.

Karti butuh dokter dan ingin makan soto daging. Ia, perempuan paruh baya itu menghela nafas berat. Terdiam lama. Meski perih menggerogoti lambungnya tapi ia tak mungkin bisa istirah. Tumpukan barang-barang rongsokan di depan rumah kardusnya harus dipilah-pilah agar bisa dijual esok hari. Seharian berjalan mengelilingi kota dan mengorek setiap tempat sampah yang dilewatinya membuat sendi-sendi tubuhnya dirajam letih.

Karti sakit. Demamnya tak juga mereda meski sudah diberi obat toko. Bagaimana caranya membawa Karti ke dokter? Berapa harga periksa dan obat dokter sekarang ini? Berpikir tentang beras, minyak dan garam saja sudah kelimpungan. Beban bertumpuk. BBM naik lagi. Harga-harga menggila. Anak laki-lakinya yang beranjak sebelas tahun, Udin, tak selalu pulang membawa uang dari pekerjaannya menjual plastik kresek hitam dan membawakan barang-barang belanjaan ibu-ibu di pasar. Mungkin lebih baik dibelikan cabe yang sekilo tigapuluh ribu ketimbang mengupah Udin membawakan barang belanjaan. Atau menunggu uang bantuan untuk keluarga miskin? Ah, ia tak berani banyak berharap. Ia bukan golongan orang miskin. Tapi derajatnya ada dibawah golongan orang miskin. Yakni; kere.

Angin malam kembali menghempaskan daun pintu hingga terbuka. Air hujan menyembur masuk. Karti masih mengerang. Perempuan itu beranjak menutup pintu. Hatinya mengeluh ngilu. "Kang Mardi, kapan kau pulang?"

"Kalau Bapak tak masuk penjara, pasti bisa membawa Karti ke dokter. Juga membelikan soto daging ya, Mak? Dulu, Bapak selalu pulang membawa makanan setiap hari. Aku tak percaya Bapak mencuri seperti yang dituduhkan orang-orang pasar."

Perempuan itu memandang anak laki-lakinya. Setiap bicara tentang bapaknya, bocah itu terlihat gusar, marah dan kecewa.

"Bapak hanya tukang sapu pasar, bukan pencuri. Bagaimana mungkin aku percaya pada omongan orang-orang pasar itu, Mak? Selama ini Bapak selalu mengajariku mencari uang dengan cara yang baik. Bahkan kita tak boleh mengemis."

"Tidurlah. Jangan terus bicara kalau kau ingin membawa Karti ke dokter dan membelikannya soto daging besok."

Udin terdiam. Memandangi maknya sekejap lalu membaringkan tubuhnya di lantai tanah. Merapat ke dinding kardus yang basah. Kain sarung kumal melindungi tubuh kurusnya yang terus mengigil. Matanya berkedip-kedip. Perlahan ia mencoba memejamkan mata. Hatinya berjanji. Besok, ia harus mendapatkan uang untuk membawa Karti ke dokter dan membeli soto daging!

* * *

"Sekilo limapuluh ribu, Bu. Maklumlah BBM naik, semua harga juga naik."

Hari sedang menuju senja. Gerimis masih berderai. Pasar hiruk pikuk. Semrawut. Angin lembab meruapkan bau busuk sampah yang bertumpuk. Udin menghentikan langkahnya di blok penjual daging. Berdiri mematung. Menatap seorang wanita gemuk berambut keriting yang sedang memilih daging sapi segar sambil menawar-nawar harga.

Limapuluh ribu? Meski tak tamat sekolah dasar, Udin mengerti jumlah itu tidak sedikit. Ia meraba saku celana pendeknya. Beberapa uang receh sisa membeli nasi bungkus kemarin masih di sana. "Ah, mana mungkin membeli daging dengan uang receh ini?" keluh hatinya. Sedangkan hari ini belum ada seorang pun membeli tas kresek hitamnya atau memintanya membawakan barang-barang belanjaan.

Ini hari kelima Udin sengaja melewati blok penjual daging. Memasang telinga lebar-lebar, agar bisa mendengar percakapan antara penjual daging dan ibu-ibu pembeli tentang harga daging. Tapi bagaimana ia bisa memenuhi janjinya tempo hari pada Karti jika harga daging sekilo limapuluh ribu?

"Bawakan barang saya sampai depan pasar!"

Udin masih mematung dengan tangan merabai saku celana ketika seorang lelaki menghardiknya.

"Heh! Tuli kau!? Atau tak mau uang?"

Udin hampir terjatuh di sodok lengan preman pasar yang kekar itu. Buru-buru ia menghampiri wanita gemuk berambut keriting yang tadi membeli daging. Tanpa banyak kata Udin mengangkat tiga tas belanjaan di depannya. Urat-urat di kedua tangannya yang kurus langsung bertonjolan keluar karena beban berat yang sangat. Namun Udin tak perduli. Terseok-seok ia mengikuti langkah wanita gemuk yang berjalan dengan gesit itu. Beberapa kali kaki Udin yang terbungkus plastik hitam terpeleset. Lantai tanah pasar tradisional itu licin. Genangan air hujan ada di mana-mana.

"Ini upahmu!" Wanita gemuk berambut keriting itu mengangsurkan dua lembar uang kertas kumal seribuan pada Udin.

Dua ribu rupiah? Udin mengamat-amati dua lembar uang kumal itu. Harga-harga naik begitu mahal, tapi upahnya membawakan barang-barang belanjaan tak pernah naik dari tahun ke tahun. Tetap saja dua ribu rupiah. Atau paling banyak lima ribu rupiah kalau pemilik barang yang dibawakannya penuh belas kasihan. Bayangan Karti makan soto daging dengan lahap melintasi mata Udin. Oh, berapakah harga semangkuk soto daging di warung Yu
Marti? Mungkin lima ribu atau sekarang tujuh ribu. Udin menoleh ke warung Yu Marti. Seminggu setelah BBM naik dan harga melambung, warung soto daging itu tutup. Yu Marti tak lagi kuat membeli daging untuk dibuat soto. Udin mendesah. Memasukkan dua lembar uang kumalnya ke saku celana.

"Uangku kurang empatpuluh delapan ribu lagi untuk membeli sekilo daging. Moga-moga Karti mau sabar," gumamnya lirih.

* * *

"Soto daging, Mak. Soto daging."

Karti masih terus mengigau. Tubuhnya seperti habis menelan bara. Panas tinggi. Bibirnya membiru. Kaki, tangan dan perutnya mulai kejang-kejang. Matanya mendelik. Ia, perempuan paruh baya itu hanya bisa mengompres kening Karti dengan air sungai. Digantinya sapu tangan handuk lusuh itu setiap kali mengering. Berkali-kali.
Perih dilambungnya sendiri tak diperdulikan. Perutnya dijerat tali setagen agar laparnya tak menjadi-jadi. Sudah tiga hari ia tak pergi memulung. Sakit Karti semakin parah. Dan Udin hanya bisa membawa sebungkus nasi setiap harinya untuk dimakan bertiga. Pagi dan siang mereka hanya minum rebusan air sungai.

Duh Gusti, seandainya ada seorang pemimpin menyamar seperti zaman sahabat dulu? Perempuan itu menerawang. Mengkhayal seorang penyamar datang ke rumah kardusnya. Seperti cerita yang didengarnya di surau kampung masa kecilnya lewat seorang guru ngaji. Tentang seorang pemimpin yang sering menyamar untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Lalu memberi sekarung gandum setelah tahu rakyatnya memasak batu karena kelaparan. Oh, datangkan seorang penyamar untuk menolong Karti, Gusti...

"Mak, cepat buka pintunya!"

Perempuan itu terhenyak. Benarkah penyamar itu datang? Bukankah itu suara Udin? Ia beranjak membuka pintu. Anak laki-lakinya tersenyum lebar di depan pintu. Tangan kanannya menjinjing kresek hitam. Wajahnya merah padam. Keringat mengucur di dahi, merembes ke pipi. Nafasnya tersengal-sengal. Sepertinya Udin berlari kencang agar cepat sampai rumah kardusnya.

"Mak, aku membawakan daging untuk Karti. Mungkin sekilo lebih! Tanganku sampai pegal membawanya sambil lari-lari. Tadi sepulang dari pasar, aku menemukan daging ini di angkutan. Wah, kita bisa makan daging ini untuk beberapa hari, Mak! Bumbunya juga sudah kubelikan di warung! Cepatlah Mak masak. Kasihan Karti."

Tak ada kata yang keluar dari bibir perempuan itu. Ia terdiam. Gagu. Antara gembira, sedih dan haru. Setelah memerintah Udin menjaga Karti, perempuan itu bergegas ke belakang rumah. Tempat ia biasa memasak. Dinyalakan kayu bakar. Dijerangnya air sungai dalam panci penyok. Daging dipotong-potong, dibersihkan lalu dimasukkan dalam panci. Aroma sedap mengepul menembus dinding kardus ketika daging telah masak bersama bumbu soto. Udin menelan air liurnya berkali-kali. Tubuh Karti yang mengejang mulai mereda.

"Udin, makanlah. Kau pasti sudah sangat lapar, "ujar Mak sambil menenteng panci penyok berisi soto daging ke dalam rumah. "Mak akan menyuapi Karti. Siapa tahu dia langsung sembuh."

Udin berlari mengambil mangkuk plastik di belakang rumah. Perempuan itu meniup-niup soto daging dalam piring plastik dan menyuapkan ke bibir Karti pelan-pelan. Maka, sore itu satu janji Udin telah lunas. Membelikan soto daging untuk adiknya. Tinggal satu janji lagi. Membawa Karti ke dokter.

"Ah, semoga Karti cepat sembuh dan tak perlu ke dokter," bisiknya lirih sambil merebahkan tubuh di lantai tanah. Tiba-tiba matanya sangat ngantuk. Perutnya kekenyangan setelah makan dua mangkuk soto daging yang lezat.

* * *

Nyonya Maliana blingsatan. Marah besar. Memaki-maki pembantunya. Kecantikan wajahnya yang selalu terurus salon seketika lenyap. Ia kehilangan!

"Hah!? Kau lupa menaruh tas kresek itu? Dasar tolol!"

Air mata pembantu muda itu meleleh. Ketika mampir ke pasar beberapa hari lalu, ia benar-benar lupa membawa tas kresek hitam itu turun dari angkutan. Apakah lupa itu sebuah dosa? Sia-sia ia mengatakan hal yang sejujurnya pada Nyonya Maliana. Sekarang ia memilih diam. Toh, apapun yang ia katakan, wanita itu akan terus memaki-makinya.

"Kalau sampai tas kresek itu ditemukan orang dan terjadi apa-apa, kau harus bertanggungjawab!"

"Tapi Nyonya, saya,"

"Makanya, pakai otakmu!" Nyonya Maliana mendorong kepala pembantu yang tersedu itu kasar. Seorang lelaki gendut menjelang tua, berkepala botak tertatih menghampiri mereka. Tangan kanannya menyangga perut.

"Ada apa, Ma?"

Nyonya Maliana memandang lelaki itu. "Pembantu gila itu bikin gara-gara. Tas kresek hitam milik Papa waktu itu hilang. Coba, bagaimana kalau tas kresek itu ditemukan orang dan dimantra-mantra? Sekarang kan banyak orang yang memperebutkan jabatan Papa yang basah itu?"

"Jadi kresek hitam dan isinya itu belum dikuburkan?"

Nyonya Maliana mendengus. Sang terdakwa, pembantunya, menggeleng ketakutan. Kaki dan tangannya gemetar. Sementara lelaki berkepala botak itu meraba perutnya perlahan seraya bergumam, "moga-moga, daging tumorku itu ditemukan bocah gelandangan dan dibuang ke sungai."

*
Jakarta, Sept 2005

PEREMPUAN KOTA HUJAN

Cerpen: Tary
Sumber: Suara Karya, Edisi 08/27/2006

Senja hari. Gerimis. Aku mengempaskan tubuh di kursi pojok kantin. Meletakkan ransel hitamku dan merapatkan retsluiting jaket. Menghalau udara basah yang menggigilkan. Kunyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya perlahan. Kepulan asapnya melingkar-lingkar seperti tarian ular.

Pedagang asongan mondar-mandir, menghampiri lalu lalang orang. Menawarkan cindera mata, makanan khas dan mainan anak-anak. Sesekali aroma gurih jagung bakar menerbitkan air liur. Mataku menerawang ke hamparan kebun teh. Pucuk-pucuk daun teh yang segar bergoyang tertiup angin. Meliuk dalam selubung kabut.

Kawasan puncak kota hujan! Aku kembali berada di sini! Seorang perempuan muda membawakan secangkir kopi panas pesananku. Ia tersenyum manis seraya menawarkan jenis makanan yang tersedia di kantin. Pipi kirinya berlesung saat ia tersenyum. Lesung pipit itu melesatkan kenanganku tentangmu.

Apakah aku datang bersama penyesalan? Aku menghela nafas. Menahan nyeri yang tiba-tiba menikam dada. Bukankah perjumpaan kita hanyalah sesuatu yang biasa? Untuk apa aku menyesal? Aku seorang pengelana yang memunguti cerita dari setiap perjumpaan. Dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Begitu juga saat berjumpa denganmu di tempat ini.

"Beli buah strowbery, Mas?" tawarmu seraya menyodorkan strowbery merah segar dalam kotak plastik.

Lima tahun sudah berlalu, namun suara beningmu ketika menawarkan buah strowbery itu masih lekat di telingaku.

"Strowbery-nya manis, Mas. Baru saja dipetik dari kebun. Banyak mengandung vitamin C lho! Atau mau mencobanya dulu? Silakan!"

Kutatap wajah bening yang sibuk dengan kotak-kotak plastik buah strowbery itu. Kutaksir usiamu tiga empat tahun lebih muda dariku. Celana jeans dan t'shirt putihmu tampak serasi. Kuakui, kau kelihatan cantik dan alami. Meski tanpa riasan, kamu tampak sangat menarik.

"Lima ribu dua kotak. Untuk oleh-oleh adik, kakak atau kekasih barangkali?"

Aku menerima strowbery yang kau ulurkan. Menimang-nimang sebentar lalu kembali menatapmu. "Kenapa kau berjualan strowbery?"

Kau mengerutkan dahi. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaan menyelidikku. Pertanyaan tak lazim dari seorang pembeli. Wajahmu berubah mendung.

Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan pertanyaanku, "Jangan pikirkan pertanyaanku tadi.""Sebenarnya aku juga sedang mencari jawaban."

Perkiraanku tepat. Kau memang bukan seorang penjual strowbery yang sesungguhnya. Aku sudah menduganya sejak kau menghampiri tempat dudukku. Bahasa tubuhmu yang penuh percaya diri, intonasi kata-katamu yang sopan, dandananmu yang tak seperti kebanyakan penjual keliling dan caramu membalas tatapan mataku.Maka, demikianlah.

Aku memutuskan tinggal lebih lama di penginapan dan waktu yang bergulir maju kemudian menjadi milik kita. Memetik buah strowbery segar dari kebun, mengepaknya dalam kotak-kotak plastik dan menjualnya di kawasan wisata Puncak Kota Hujan. Pada waktu yang lain, kita duduk mencakung di depan penjual jagung bakar. Menahan air liur terjatuh karena aroma gurihnya yang menggoda. Atau, menyusuri jalan setapak di antara hamparan perbukitan teh. Kau menghirup udara puas-puas, merentangkan tangan lalu berteriak lepas ketika pendakian kita sampai di bukit tertinggi.

"Mencari jawaban!" begitu katamu setiap kutanya mengapa kau selalu berteriak di sana.

Aku seorang pengelana. Memunguti kisah dari berbagai kejadian yang kutemui kemudian menuangkannya dalam berlembar-lembar cerita fiksi. Itulah duniaku. Itulah hidupku. Dan pertemuanku denganmu juga tak berbeda dengan pertemuanku dengan sosok-sosok yang lain. Kisah hidupmu adalah sebuah cerita yang menarik.

Kau menghentikan kuliahmu di salah satu perguruan tinggi negeri sebagai bukti pertanggungjawaban terlahir sebagai sulung dari lima bersaudara. Ayahmu menjual semua tanahnya pada orang-orang berdahi licin. Ketika vila-vila berdiri megah, uang ayahmu habis di meja judi dan minuman keras. Setahun kemudian ibumu mati merana. Pada cerita itulah kau, perempuan muda yang cantik, berdiri sebagai tokoh utamanya.

Dan aku sang pengarang, "Tuhan" dari setiap tokoh dalam cerita memutuskan pergi sebelum cerita berakhir. Sebulan mengenal kehidupanmu, dari pagi hingga malam setiap harinya, bagiku sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah tulisan. Masih kuingat air matamu meleleh ketika kulambaikan tangan dari jendela mobil L300 yang kemudian mengantarku pada pengelanaan selanjutnya.

Waktu terus berputar, mengubah masa kini menjadi cerita lalu dalam sekejap. Ketika perjumpaan dengan tokoh-tokoh baru yang akan menjadi model dalam ceritaku terus berlangsung di berbagai tempat, aku belum juga mulai menulis tentangmu. Aku bahkan tidak bisa menggabungkan imajinasiku dengan kenyataan. Aku tidak tega mendramatisir hidup yang tengah kau jalani. Cerita tentangmu terbengkelai. Hanya terhenti pada coretan-coretan dalam lembaran kertas. Teronggok berdebu di meja kamar
.
Hingga suatu hari sepulang dari pengelanaan aku menemukan setumpuk suratmu. Selama aku pergi, rupanya kau mengirim surat setiap minggu. Aku memang memberimu alamat rumah sebelum berpisah. Membaca kata demi kata dalam suratmu yang bertumpuk membuat dadaku disesaki rindu. Dan aku yakin, kau pun demikian sesak oleh rindu ketika menuliskan surat-surat itu.

Namun, apa itu rindu? Aku menepis sesak yang melanda dadaku. Aku seorang pengelana. Berjumpa dengan bermacam-macam orang bukan untuk mengobati rindu atau mencari cinta. Aku hanya singgah sesaat untuk memungut kisah. Maka, jika aku kemudian mengabaikan surat-suratmu, apakah aku bersalah?

"Kau membohongi dirimu sendiri, Yan! Kau jatuh cinta pada perempuan itu!" Aku terkekeh mendengar kata-kata Hasta, sohibku yang juga seorang pengarang.

"Kau terlalu kerdil untuk mengakui bahwa kau telah jatuh cinta. Kau takut kegagalanmu di masa lalu terulang. Kau hanya berani menuliskannya dalam cerita padahal kenyataannya sekedar bercerita pun kau gagal!"

"Perempuan bagiku hanya sumber inspirasi, Has. Tak lebih!"

"Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tapi hatimu berkata lain. Kau terlahir dari perempuan, punya saudara perempuan. Apa benar kau menghargai perempuan sebatas itu?"

"Sok tahu kamu!"

"Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau sering melamun memandangi fotonya? Lalu diam-diam kau membaca ulang surat-suratnya. Ha ha ha! Tidak sebentar aku mengenalmu, Yan!"

Aku mendengus. Berusaha mengelak dari tuduhan Hasta. Pengelana tak akan menambatkan cintanya dalam perjalanan. Tapi benarkah? Siapa yang membuat undang-undang itu? Mungkin aku sendiri. Aku tidak ingin atau tepatnya belum ingin menambatkan cintaku lagi setelah kegagalanku di masa lalu. Jadi kata-kata Hasta benar? Aku seorang pengelana kerdil? Pergi ke berbagai tempat hanya untuk melarikan diri dari luka?

Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku ketika suratmu kembali datang. Dalam surat itu kau menceritakan kondisimu yang terjepit. Untuk membayar utang-utang ayahmu di meja judi dan warung minuman keras, kau harus menikah dengan lelaki berdahi licin. Sungguh sebuah novel yang sendu! Siti Nurbaya di abad komputer! Tiba-tiba aku menemukan rangkaian cerita lama yang tak pernah sanggup kuselesaikan.

Dan, begitulah.
Aku mulai menulis. Merangkai penggalan cerita yang hilang dan mengabaikan suratmu. Aku ingin membuktikan pada Hasta bahwa tuduhannya tidak benar. Bahwa aku tidak gagal bercerita tentangmu. Tetapi, pada halaman ke sepuluh aku kembali berhenti. Aku tidak sanggup meneruskannya karena setiap saat menggoreskan pena dalam kertas yang berkisah tentangmu, dadaku mendadak nyeri.

Aku benar-benar berhenti menulis tentangmu. Hingga suatu siang suratmu kembali datang bersama selembar kartu undangan. Dadaku berdesir membaca namamu terukir di sana bersanding dengan nama si dahi licin. Kau menulis beberapa kata untukku.

Demi baktiku pada ayah, aku rela bersanding dengannya.

Tetapi, sebelum malam sempurna seusai pesta, aku akan mengakhirinya dengan caraku. Rayan, apa benar kau tidak peduli lagi padaku?

"Mau tambah kopi panasnya, Mas?"

Pertanyaan itu menyentakkan lamunanku tentangmu. Aku menggeleng pada perempuan muda berlesung pipit di depanku. Sebatang rokok di tanganku tak lagi berasap dan secangkir kopi panas telah tandas. Angin menderu kencang ketika kuseret ransel hitamku meninggalkan kantin.

Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak di antara perbukitan teh menembus gerimis yang makin rapat. Dalam surat undangan, kau akan bersanding dengan si dahi licin itu, besok, tepat jam 10 pagi.

Maka, aku telah memilih caraku sendiri untuk peduli padamu. Tunggulah aku perempuan kota hujan! Sebelum matahari terbit kau akan menemukan jawaban yang kau cari selama ini. Karena aku tak mau terlahir sebagai lelaki pecundang! ***

PEREMPUANKU

Cerpen: Tary
Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 05/07/2006

Malam menggigil. Gemetar ditampar angin lembab penghujung tahun. Seorang perempuan turun dari pintu kiri mobil. Rok mini, tank top, tas tangan. Gincu, bedak, tato alis, perona pipi, parfum. Langsing, langsat, cantik.

"Lusa malam di tempat biasa. Oke?" suara lelaki berkepala melon, menjulur dari kaca jendela kanan mobil yang terbuka. P

erempuan itu melempar senyum. "Oke, sayang!"

Bougenvile ungu di sisi jalan mengangguk-angguk, seolah ikut menyetujui jawaban itu. Mobil tua melesat, perempuan cantik berbalik. Rambut gelombangnya bergoyang.

Tak...tuk...tak...tuk...tak...tuk. Suara kelotak sepatu hak tingginya mencipta irama gema.
Menghantam lengang hingga ujung gang. Lima pasang mata pemuda nakal menatap sambil berdecap. Gardu di pinggir gang mendadak riuh. Celetuk kotor, celoteh bau, ejekan basi. Mereka bersuit-suit girang ketika mata perempuan itu mengerling dan menyapa dengan sebungkus kacang goreng.

Tak...tuk...tak...tuk...tak...tuk. Suara kelotak sepatu itu terhenti di depan sebuah rumah mungil. Tipe 21, sederhana, satu kamar. Sejenak berganti bunyi derit pintu pagar besi lalu lenyap sama sekali. Suitan pemuda nakal di gardu pinggir gang kehilangan gairah. Berganti petikan gitar, nyanyian sumbang dan tawa panjang terkekeh-kekeh.

Klik. Klak.

Pintu terbuka, lampu menyala. Perempuan itu melempar tubuhnya ke kursi ruang tamu. Tangan kanannya meraba-raba bagian dalam tas tangannya. Berlembar-lembar uang ada di sana. Malam penuh keberuntungan, batinnya. Bukan hanya mendapatkan uang banyak, tetapi juga cinta. Dadanya bergeletar aneh setiap bertemu lelaki berkepala melon. Bukankah itu cinta? Apalagi lelaki itu baru saja meminangnya dan berjanji menikahinya bulan depan.

Senyum perempuan itu mengembang. Setelah melepas sepatu hak tingginya satu persatu, ia beranjak ke kamar. Sebungkus martabak manis kesukaan ibunya dibawa serta. Ia nekat ingin membangunkan ibunya sejenak. Sejenak saja. Ia ingin mengabarkan berita gembira. Ia ingin berbagi bahagia.

"Ibu, aku sudah pulang."

Ibu paruh baya bergeming. Berbaring miring memunggungi perempuan itu. Selimut tebal menutupi daster batik muram yang dikenakannya. Perempuan itu menghela nafas, melirik jam dinding kamar. Pukul tiga lewat sepuluh, dini hari.

"Ibu, bangunlah sebentar. Aku membawa martabak hangat dan berita hebat."

Tak ada kata-kata, tak ada suara. Sepi, sunyi, senyap.

Dahi perempuan itu berkerut. Perlahan ditepuk bahu ibunya, digoyang punggung ibunya, disingkap sedikit bagian atas selimutnya. Tubuh Ibu terguling. Terlentang, sedikit menekuk, kaku. Daster batiknya basah. Mulutnya berbusa-busa!
Perempuan itu melengking, tubuhnya ambruk di atas jasad ibunya.

*

Perempuan cantik itu milikku...
Aku rebah setelah bunyi kelotak sepatunya menjauhi halaman rumah. Terang purnama empat belas menerobos melalui jendela kamar yang terbuka. Aku suka berdiri di depan jendela itu memandang purnama. Tapi akhir-akhir ini sendi-sendiku sering lemas. Tubuhku menggigil setiap ia berpamitan, "Rika berangkat kerja dulu ya Bu, doakan Rika dapat banyak uang."

Lalu cup, cup! Ia mendaratkan bibirnya yang bergincu tebal ke pipi kiri kananku hingga menimbulkan bekas merah dan rasa panas yang menyayat. Kupandangi tubuh perempuannya menghilang di balik pintu. Ia meminta doaku. Aku mengeluh dalam diam. Tuhan, pantaskah aku berdoa jika surga tak lagi bersemayam di telapak kakiku?

Waktu seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Menancap kuat di sasaran yang salah tanpa aku sanggup mencabutnya kembali.

"Ibu, aku malu diejek terus sama teman-teman."
Mata perempuan kecilku sembab. Bibirnya bergetar. Aku merengkuh tubuh mungilnya dalam pelukan dan mencoba menghiburnya.

"Jangan takut diejek sayang, kamu cantik. Coba lihat cermin!" kutuntun tangan mungil itu mendekati cermin besar di dalam kamar. "Lihat! Cantik, kan? Mereka itu iri, sayang! Iri karena tidak bisa secantik dirimu!"

"Tapi, aku kan..."

"Jangan pedulikan mereka, sayang!"

Mata perempuan kecilku menatapku tajam. Pipinya basah. Bibirnya semakin bergetar. Ketika aku mencoba meraih lagi tubuh mungilnya ke dalam dekapan, ia meronta. Berbalik dan berlari meninggalkanku.
Samar kudengar rintihnya berulang-ulang di antara isak tangis, "Ibu jahat! Ibu Jahat! Ibu jahat!"

*

Perempuan cantik itu milikku...
Aku mengandungnya selama sembilan bulan lewat beberapa hari. Aku menyusuinya selama dua tahun. Aku mengasuhnya tumbuh. Tak ada siapa pun yang bisa mengambilnya dari sisiku. Tidak manusia, tidak juga Tuhan. Tidak, tidak, tidak!

"Aku tidak mau pakai baju itu!"

Perempuan kecilku memberontak. Tubuh telanjangnya yang baru saja kuseka handuk sehabis mandi mengerut, matanya menatapku galak. Aku mencoba membujuk. Membentangkan baju baru warna merah muda ke hadapannya.

"Sayang, bajunya pakai renda lho! Kamu suka baju berenda seperti Cinderella, bukan? Nanti Ibu belikan juga sepatu kacanya. Bagaimana?"

"Tidak mau!"

Aku memutar otak lalu mengambil baju biru bermotif bunga-bunga.
"Mungkin Rika suka yang ini?"

"Aku bukan Rika!" teriak perempuan kecilku. M

atanya menantang mataku. Jelas, tegas, tanpa rasa takut sedikitpun.
Kesabaranku tandas. Emosiku menderas. Pemberontak kecil di depanku ini harus ditumpas! Gigi gerahamku beradu menimbulkan suara gemeletuk. Dengan sekali gerakan kutarik lengannya dan kujepit tubuhnya di antara kedua kakiku. Baju merah muda berenda-renda masuk ke tubuhnya dengan paksa. Perempuan kecilku mengigil ketakutan. Air matanya berlinang-linang. Tanpa sedu sedan, tanpa isak tangis. Ia menatapku seperti melihat setan.
Sejak peristiwa baju berenda itu, ia benar-benar menjadi milikku. Tak ada yang berkurang, tak ada yang hilang.

Perempuan kecilku tak pernah lagi menjadi pemberontak. Baju bunga-bunga, baju berenda, rok rimple-rimple merah muda. Ia akan memakainya tanpa bertanya atau mengeluh. Ia mulai menyukai boneka-boneka barbienya dan ia tidak keberatan bermain masak-masakan bersamaku di halaman samping rumah. Aku puas, aku bahagia. Ia adalah Rika yang cantik dan pintar. Ia adalah Rika yang selalu menuruti kata-kataku. Ia adalah Rika yang...
Ah, selamat datang kembali Rika sayang!

*

Perempuan cantik itu milikku....

"Kamu harus mendidik anakmu dengan baik."

"Kasihan sekali anakmu! Berikan saja padaku!"

"Dasar wanita gila! Harusnya dia masuk RSJ!"

Ketika aku bahagia, semua orang meributkan Rika. Orangtuaku, mertuaku, saudara ipar, kakak-kakak, tetangga-tetangga dan ibu-ibu arisan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merecoki milikku. Lagipula apa hak mereka terhadap Rika? Aku ibunya dan mencintainya berlipat-lipat. Lebih banyak dari sebelum ia kembali.

Keributan itu membuatku terancam. Bagaimana kalau mereka mengambil paksa Rika dari sisiku? Aku tidak mau kehilangan milikku! Diam-diam kubawa Rika pindah ke kota lain menjauhi mereka. Di sebuah rumah tipe 21 perkampungan padat penduduk kami memulai hidup baru. Kuhapus semua jejakku agar keluarga besar tak dapat melacak. Aku bekerja sebagai karyawan pabrik dan Rika tumbuh tanpa keusilan orang-orang sekeliling. Di tempat ini, aku yakin bisa menjaga Rika dari ancaman. Ia akan menjadi milikku selamanya.

"Ibu, aku ingin belajar memakai make up. Boleh, kan?"

Aku menimbang-nimbang. Minggu kemarin usia Rika telah masuk bilangan tujuh belas. Ia telah tumbuh seperti keinginanku. Seorang perempuan muda yang cantik, luwes dan menggoda. Sekarang ia ingin belajar menggunakan make up. Apa yang salah dengan keinginan itu?

"Boleh ya, Bu?" rajuknya. "Aku ingin kelihatan lebih cantik, lebih menarik, lebih..."

"Belajar sama siapa?" potongku.

"Aku punya teman baik di salon. Dia bersedia mengajariku."

Rika mencium pipiku ketika aku mengizinkannya. Maka mulailah satu kegiatan baru dalam hari-hari Rika. Pulang sekolah ia langsung ke salon untuk belajar make up dan malam harinya mempraktikkannya di rumah. Cantik, luwes dan sangat perempuan. Begitulah saat aku melihat hasil riasan wajahnya. Rikaku telah sempurna menjadi perempuanku. Namun, kesehatanku tak sesempurna perempuanku. Penyakit demi penyakit mulai menggerogotiku. Aku tak kuat lagi bekerja di pabrik. Menjelang Rika naik kelas tiga, aku terkena PHK. Pabrik menendangku begitu saja tanpa pesangon. Setelah uang tabungan habis, kami sekarat.

"Ibu, aku bisa bekerja di salon."

Babak baru dalam hidupku berpentas. Rika keluar dari sekolah dan bekerja di salon. Penghasilannya dari hari ke hari selalu bertambah. Biaya makan, berobat dan kebutuhan lainnya tertutupi dengan cepat. Terkadang aku merasa itu tak wajar. Berapa banyak gaji Rika di salon itu? Tapi aku enggan memperpanjang pikiran buruk. Aku selalu menghibur diriku dengan berbagai kemungkinan. Mungkin ia mendapatkan tip lebih dari pelanggan, mungkin ia menjadi kesayangan majikannya, mungkin ia bekerja juga di salon lain yang lebih besar dan mungkin mungkin yang lainnya.

Sampai suatu hari, seorang lelaki berkepala melon datang ke rumah. Aku melihat binar-binar cinta di mata perempuanku. Aku melihat gairah asmara di lenggak-lenggok perempuanku. Dan aku terhuyung-huyung menubruk pintu ketika perempuanku mengatakan ingin menikah dengan lelaki berkepala melon itu.

Tuhan, pantaskah aku berdoa untuk perempuanku? Mungkin surga tak lagi bersemayam di telapak kakiku. Setelah suami dan anak sulungku meninggal dalam kecelakaan. Setelah kehilangan yang pedih itu memaksaku pergi dari kenyataan. Setelah bayi lelakiku bernama Riko kupaksa menggantikan posisi Rika anak sulungku. Setelah aku menjadikan Riko seorang perempuan dengan jiwa raga sempurna. Setelah...*

Mede17, 02.04.06

KETUKAN DI PINTU DEPAN

Cerpen: Tary
Sumber: Jawa Pos, Edisi 05/14/2006

Ia terbangun dari lelap tidurnya di malam pekat. Sayup suara, samar-samar menembus gendang telinganya. Perlahan ia menggosok-gosok mata, menyibakkan rambut, berusaha menajamkan pendengaran. Pintu rumahnya diketuk dari luar. Ketukan yang lembut. Tiga kali, tiga kali. Beruntun dan teratur. Sejenak ia merasa seolah berada pada sebuah ruang sempit yang akan mengimpitnya, sebelum kemudian tersadar ia berada di pembaringan bersama tubuh wanita bungkuk meringkuk, tak bergerak. Hanya napasnya yang naik turun teratur. Ketika bergerak pun wanita itu tak lebih dari seorang tua renta.

Ketukan di pintu depan, sebuah ruang sempit yang mengimpit, entah sejak kapan ia mulai merisaukannya. Kadang ia merasa ketukan itu terdengar bagai rintih pedih yang menyayat. Lalu ia menemukan luka, darah dan air mata pada ruang sempit gelap yang mengimpitnya. Malam ini, ia terbangun dengan suasana yang sama. Ketukan itu kembali menggodanya. Beruntun dan teratur. Menuntun langkahnya turun dari pembaringan.

Perlahan tangannya menyibak kelambu depan. Tak ada siapa-siapa. Hanya desau angin terdengar merintih menerpa daun-daun pisang di halaman samping. Sesekali terdengar kerik jangkrik, kodok mandi di blumbang belakang rumah menciptakan irama tertentu. Lalu binatang-binatang itu berdiam. Senyap.

"Tak ada siapa-siapa. Apa aku bermimpi?" batinnya seraya kembali ke samping wanita renta.

Dipejamkan mata. Ia ingin menuntaskan tidurnya yang terusik. Ketika kantuk mulai menyeretnya ke dunia mimpi, sayup suara ketukan itu terdengar lagi. Lebih nyaring dalam pendengarannya. Ia kembali terbangun dan beranjak. Berjalan berjingkat menjangkau gagang pintu. Mendorongnya perlahan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat memasuki rumah. Tak seperti tubuh manusia. Tanpa hidung, bibir, mata, alis, tangan ataupun kaki. Ya, hanya sekelebat bayangan. Seperti asap yang terbang bersama udara sebelum kemudian lesap tanpa tanda. Ia terpana, berdiri bagai patung di perempatan jalan besar lalu mundur tak percaya.

"Siapa kau? Hantu? Jangan mempermainkanku!" gertaknya. Senyap. Tiada jawaban.

Ia menunggu beberapa saat. Tetap senyap. Namun tiba-tiba bayangan itu kembali berkelebat. Kini jauh lebih pekat. Lebih tebal. Meliuk-liuk memutari tubuhnya dengan desis menyerupai rintihan. Lalu bayangan itu membuat gerakan seperti membelai sebelum kemudian berhenti dan menempel diam di dinding.

"Siapa kau?" Hati-hati dan takjub ia mendekatkan wajahnya ke dinding.

Pertanyaannya tak terjawab. Hanya desis yang terdengar bagai rintihan panjang. Luka, darah, sebuah ruang sempit menghimpit…

"Kenapa? Ada apa?"Suara serak wanita renta mengejutkannya. Tubuh bungkuk terseok menghampirinya.

Lalu bayangan itu bergerak. Berputar-putar, membentuk gulungan pekat, menembus dinding, kemudian lenyap. Ia terengah. Matanya nanar mencari-cari bayangan yang lenyap. Ia percaya itu bukan mimpi.

"Kenapa? Ada apa?" Ia menggeleng.
Berusaha menarik ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyuman. Ia tidak ingin wanita renta itu mencemaskannya.

"Mungkin aku mengigau," gumamnya. Ia tak menyadari bahwa bayangan itu benar-benar merintih. Dalam luka. Dalam darah. Dalam sebuah ruang sempit.

***

Entah pada hari ke berapa, kemudian ia ingin mengabaikan. Mungkin ketukan di pintu depan dan kelebat bayangan itu hantu. Apa istimewanya? Toh, alam gaib itu memang ada. Bukankah semua hidup dalam alam masing-masing dan tunduk di bawah kuasa-Nya? Jika kita tidak mengusik, mereka juga akan berdiam. Hanya yang sedikit mengherankannya, kenapa wanita renta tidak mendengar ketukan itu? Kenapa ketukan itu hanya menembus gendang telinganya?

Ia tak ingin peduli. Ia tak ingin memikirkannya. Tapi ketukan itu kian nyaring pada malam ke sepuluh. Ia menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan. Menimbuni kepalanya dengan bantal. Ia ingin membiarkan. Namun sayup ketukan itu seolah menembus bantal yang menutupi kepalanya. Merenggangkan tangannya dan menjebol paksa gendang telinganya. Ia seolah kembali berada di sebuah ruang sempit. Luka, darah, air mata…

"Oh…!" rintihnya sambil melepaskan bantal.

Wanita renta di sampingnya terusik sesaat sebelum kembali lelap. Napasnya memburu ketika turun dari pembaringan lalu berjalan ke pintu. Namun langkahnya terhenti di muka pintu bilik. Sayup ketukan itu bergema di sana. Bukan lagi di pintu depan. Ketukan yang lembut namun nyaring. Beruntun dan teratur. Tiga kali, tiga kali. Dijangkau gagang pintu bilik, didorong perlahan. Sekelebat bayangan itu memasuki biliknya. Melesat lebih cepat dari malam yang lalu. Meliuk-liuk mengitari tubuhnya lalu berhenti, menempel diam di dinding. Bayangan itu seolah berdiri dan menatap lekat padanya.

"Apa maumu?" sentaknya meradang.

Tiba-tiba ia merasa malamnya sangat terganggu dengan bayangan yang tak pernah ia usik itu. Kemarahan terasa mencekik lehernya. Matanya bergerak ke segala arah mencari sesuatu. Kemudian ia menemukan pisau yang tergeletak di meja. Pisau yang digunakan wanita renta itu mengupas pepaya tadi sore.

"Apa maumu?" ulangnya semakin meradang.

Diacungkan pisau ke arah bayangan itu. Namun bayangan itu tetap berdiri tenang, menempel diam di dinding. Tak berbicara, tak bergerak, tak beranjak. Merasa dipermainkan ia menghujamkan pisau itu ke seluruh bayangan di dinding.

Crash! Crash! Crash…! Ia membabi buta. Menggunakan seluruh energi yang dimilikinya. Tak dipedulikan napasnya yang hampir putus dan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Hujaman terakhir membuat pisaunya menancap kuat di dinding. Tak kuasa ia mencabutnya. Hujaman lainnya membentuk lubang-lubang di dinding.

Sesuatu tiba-tiba meleleh dari lubang-lubang itu. Ia tertegun lama. Menahan napasnya yang tersengal. Menarik tubuhnya tak percaya. Lubang-lubang di dinding bekas hujaman pisaunya itu mengalirkan darah! Perlahan dan hati-hati didekatkannya wajah. Matanya membelalak tak percaya. Darah di dinding itu saling bertaut. Seperti digerakkan oleh kekuatan entah. Demikian teratur membentuk huruf demi huruf yang kemudian merangkai sebuah kalimat: ROH, AKU PULANG…

Usai membentuk sebuah kalimat, sisa darah yang lain menyatukan diri membentuk sebuah gambar. Seperti tangan pelukis yang gesit menyapukan kuas pada kain kanvas. Sisa darah itu bergerak membentuk rambut, mata, hidung, bibir, leher, dada, tangan, paha, kaki, dan perut. Tapi perut itu tidak seperti biasanya. Perut itu membuncit. Ia kini mengerti. Darah itu melukis tubuh seorang wanita hamil! Ia masih tertegun. Ternganga dalam ketidakmengertian. Desis rintihan kembali membawanya ke sebuah ruang sempit. Luka, darah, air mata…Siapakah wanita dalam lukisan darah itu?

Ia menggeleng-gelengkan kepala tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Ia mencoba mengamati lukisan itu lebih seksama. Ia menemukan kelembutan dan ketegaran seorang ibu di sana. Ketegaran yang membuat seorang wanita tidak putus asa meski ditinggal suaminya pergi dengan wanita lain. Ketegaran yang membuat seorang wanita berani pergi ke negeri ringgit untuk mengais rezeki. Meninggalkan gadis mungil dalam dekapan wanita menjelang renta sekian tahun silam. Lantas membiarkan dirinya lenyap di telan bumi. Tanpa kabar.Ada kekuatan yang tiba-tiba menarik tangannya untuk mengusap lukisan itu. Merasakan kepedihan yang dalam. Luka, darah, air mata…

"Siapa, kau?" tanyanya lirih di antara isak.

Ia merasakan kesedihan yang dalam ketika tangannya menyentuh lukisan darah itu. Air mata dan peluh bersaing membanjiri bagian tubuhnya. Ia kemudian terkulai di lantai. Napasnya tersengal-sengal. Kerisauan, kebingungan, ketakutan, ketidakmengertian telah menumpasnya malam ini. Ia memejamkan mata. Tidak ingin menatap lukisan darah di dinding itu. Hatinya perih.

"Kenapa? Ada apa?"

Ada tangan yang tiba-tiba menyentuh bahunya lembut. Ia terkesiap. Matanya kembali nanar mencari-cari lukisan darah di dinding. Namun ia tidak menemukannya. Lukisan darah itu lenyap! Dan di hadapannya, wanita renta yang gurat wajah yang tak jauh berbeda dengan wajah dalam lukisan darah itu menatapnya cemas.

"Ada darah di dinding." Matanya masih mencari.

"Darah apa?"

"Lukisan darah."

"Ah, kau mengigau."

"Tidak Nek, tadi benar-benar ada di dinding itu."

"Mana buktinya? Dinding itu bersih, tidak ada darah di sana."

"Lukisan darah berwajah sepertimu."

"Sudahlah..."

"Aku akan mencari orang dalam lukisan itu, Nek."

"Untuk apa? Akan kau cari ke mana?"

"Ke kota. Atau ke mana saja.""Minumlah dulu, jangan terus mengigau."

Ia meneguk segelas air putih yang dibawa wanita renta itu hingga tandas, menarik napas hingga seluruh udara memenuhi rongga dadanya, lalu menjatuhkan tubuhnya di pembaringan. Matanya menerawang, jantungnya berdebaran. Lukisan darah itu kembali membayangi matanya. Siapa wanita itu? Perlahan ia mengangkat telapak tangannya dan ada sisa darah melengket kering di jemarinya.

***

Tas besar itu telah dijejali pakaian dan perbekalan. Ia akan pergi. Mungkin ke kota atau ke negeri entah.

"Aku akan mencari wanita dalam lukisan itu," gumamnya.

Ia sedih melihat wanita renta itu terlihat berat melepas kepergiannya. Mata wanita renta itu berkaca-kaca. Ia tak ingin mengurungkan niatnya. Hampir setiap malam, sayup ketukan beruntun, bayangan pekat berkelebat, kemudian darah yang menjelma lukisan itu menghantui hidupnya. Ia tak ingin digilas ketakutan, kesedihan, penasaran juga ketidakmengertian yang terus bertumpuk dari hari ke hari. Ada yang berkelebat saat ia mengayunkan langkah dan melepas tangan wanita renta yang memeganginya. Sebuah bayangan. Ada desis menyerupai rintihan yang semakin jelas. Luka, darah, airmata dan sebuah ruang sempit…menyeretnya dalam kepedihan.

"Kau akan pergi ke mana?" pertanyaan wanita renta itu menonjok lamunannya. I

a hanya bergumam, menggeleng lalu menyeret tas besarnya. Entah, ia sendiri tak tahu harus ke mana mencari wanita dalam lukisan itu. Mungkin ke kota. Tapi kota yang mana? Namun lukisan darah di dinding yang desisnya menyerupai rintihan itu seolah terus memanggilnya, mengajaknya untuk bertemu.Langkahnya terhenti. Perlahan tangannya menjangkau gagang pintu depan rumahnya. Sedikit gemetar ketika akan mendorongnya. Saat itu ia mendengar suara ribut-ribut di halaman. Ia menajamkan pendengarannya seperti saat mendengarkan ketukan lembut di setiap malamnya, lalu menatap wanita renta yang berdiri bungkuk di sampingnya. Mereka saling berpandangan dan mengeryitkan kening. Benaknya penuh tanya.

"Benar ini rumahnya?" tanya seorang laki-laki di halaman.

"Benar, Pak," jawab sebuah suara, seperti suara tetangganya.

"Turunkan perlahan-lahan!" teriak laki-laki yang tadi bertanya memberi perintah.

"Tolong yang lain bantu kami menurunkan!"

"Awas, hati-hati!" suara yang lain lagi.

"Panggil keluarganya!" suara lelaki pertama kembali memerintah.

Ia terdiam sesaat. Otaknya berputar mencoba menebak-nebak tentang keributan yang terjadi di halaman. Namun ketika ia menyadari tak juga menemukan tebakan yang tepat, tangannya mendorong gagang pintu. Mulutnya ternganga ketika melihat puluhan orang; tetangga laki-laki, perempuan, anak-anak, Pak RT, RW, lurah, polisi, berkumpul di halaman. Mereka mengelilingi mobil ambulan yang sudah dimatikan sirinenya. Beberapa orang menurunkan peti mati dari dalam ambulan. Sementara seorang tetangga berlari-lari menghampirinya.

"Roh! Rohana! Itu mayat emakmu. Ia meninggal karena jatuh dari apartemen tempatnya bekerja. Ia sedang mengandung anak majikannya!"

Seperti masuk ke dalam mesin pendingin, ia merasakan tubuhnya menggigil hebat, rahangnya mengatup rapat. Wanita renta di sampingnya terkulai pingsan. Kerumunan orang-orang menyingkir ketika ia mendekati peti mati. Dilihatnya darah berceceran di dinding peti mati emaknya. Menuliskan: ROH, AKU PULANG… dan melukiskan tubuh wanita hamil! ***

Utan Kayu, 23 Juni 2004

Friday, January 5, 2007

KOTAK KENANGAN

Cerpen: Tary
Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 12/03/2006

Perempuan berwajah tertutup kain hitam itu meletakkan minuman kaleng di depanku. Matanya berkilat bahaya ketika bertubrukan dengan mataku. Aku membuang pandang, namun ekor mataku mengikuti langkahnya yang gesit. Berpindah dari satu meja ke meja lain untuk melayani pesanan pengunjung kafe.

"Kabarnya kau sudah jadi pengarang hebat?" suara berat menghampiriku.

Aku mendongak. Sesosok tubuh kekar dan kulit legam sedang berdiri di samping mejaku. Rambutnya gondrong dan dagunya penuh cambang. Aku mempersilakan lelaki itu duduk di kursi yang berhadapan denganku.

"Sepertinya menyenangkan menjadi pengarang."

Kuletakkan secangkir kopi yang baru saja kuteguk. Siapa lelaki ini? Kupandang matanya yang tajam menatapku. Dari mana dia tahu tentang diriku?

"Rokok?" tawarku menyodorkan sebungkus rokok putih.

Lelaki itu terbahak. Aku mengerutkan kening.

"Rokok putih seperti milikmu hanya untuk lelaki kota. Sedangkan lelaki nelayan sepertiku rokoknya seperti ini," katanya mengeluarkan kotak kecil dari dalam tas kumalnya. Dia mengambil botol tembakau, menuangkan ke atas lembaran kecil dan melintingnya menjadi sebuah rokok.

"Ini baru nikmat!" katanya seraya menyulut ujung rokok dan menghisapnya.

"Dari mana kau tahu tentangku?" Aku tak dapat menahan diri.

"Wija, biasanya orang macam kau memiliki ketelitian lebih dari orang-orang biasa, bukan?"

Dia juga tahu namaku. Aku memandangnya lama. Mungkinkah lelaki ini bagian dari kotak kenanganku?

"Baiklah, Wija. Kau boleh mengingat-ingat siapa diriku hingga semalaman. Tapi aku tak bisa menunggu hingga ingatanmu membaik."

Ada yang berputar ulang dalam otakku. Dan aku menemukan gambar lelaki itu di salah satu sisinya. "Hei! Tunggu!"

Namun, lelaki itu telah menghilang.

*

Ada sekotak kenangan yang menjadi alasanku mengunjungi tanah masa kecil ini. Isi kotak kenangan itu selalu terselip dalam lipatan hari-hariku. Aku tak bisa membuangnya ataupun membunuhnya. Bahkan sekarang menyeret kakiku untuk membuka gemboknya. Memunguti puluhan kisah yang masih tersimpan rapi.

"Sudah kau dapatkan inspirasimu?" suara berat itu kembali menggangguku.

Aku menoleh dan mendapati wajah lelaki yang sama. "Apa pedulimu?"

"Wija, kau belum mengingatku?"

Lelaki itu menatapku. Rambutnya berkibar diterpa angin malam. Dalam temaram rembulan, aku melihat sorot matanya yang berharap. Aku membuang pandang pada ombak yang berdebur menjilati bibir pantai.

"Memangnya kenapa kalau aku mengingatmu, Sarman?" kataku, tersenyum.

Beberapa saat kami saling menatap dan meneliti. Detik berikutnya tawa kami meledak. Satu kotak kenangan itu terbuka dan aku mulai memunguti salah satu kisahnya. Di depan sana, kulihat tubuh kecilku menyongsong ombak bersama tubuh kecil Sarman. Sejak kepindahanku ke kampung nelayan ini, aku terpesona kepandaian Sarman berenang dan menyelam. Setelah petang datang dan nenek berteriak-teriak memanggil, aku baru pulang. Aku harus menurut kepada nenek jika tak ingin ibu yang baru saja diceraikan ayah lebih bersedih.

"Aku membaca tulisan-tulisanmu di koran setiap ke kota. Hebat!"

Aku tak menanggapi kata-kata Sarman dan mulai menyulut rokok.

"Jadi kau kembali ke kampung ini untuk mencari inspirasi, bukan?"

"Apa kelihatannya begitu?" Aku balas bertanya.

Sarman tertawa sinis. "Kau bisa menulis cerita tentang pemuda nelayan miskin sepertiku, pernah sekolah ke kota dan ujung-ujungnya jadi nelayan miskin juga. Kau akan mendapatkan banyak uang dengan ceritamu itu, sementara aku di sini tetap miskin."

Aku tertawa datar. Apa dia pikir pengarang sepertiku ini kaya?

"Aku punya cerita hebat untukmu," kata Sarman sungguh-sungguh. "Itu jika kau tertarik."
"Sehebat apa?"

Sarman bangkit. Tanpa menunggu persetujuanku, serta merta ia menarik lenganku. "Ikut aku!"

*

Sarman berhenti di depan sebuah bangunan memanjang pinggir pantai tepat pukul 11 malam. Setelah memandang berkeliling Sarman mengajakku masuk. Dua puluh kamar berjajar membentuk hurup U. Berdinding tembok dan berlantai ubin. Sarman menyebut bangunan ini penginapan. Seperti kafe di pinggir pantai, aku juga tak melihat bayangan bangunan ini dalam kotak kenanganku. Laki-laki dan perempuan melintas bergandengan, sebagian yang lain duduk di kursi ruang tamu. Main kartu dan minum alkohol. Sesekali kudengar tawa cekikikan dari kamar-kamar berlampu redup. Sarman menghampiri resepsionis menor yang sibuk mencatat.

"Penghuni kamar paling ujung ada?"

Resepsionis itu mengangkat wajahnya lalu menatap Sarman dan aku bergantian.

"Ada. Kau atau temanmu?"

"Dia!" Sarman menunjukku sambil mengedipkan matanya. Resepsionis itu tersenyum genit.
Sebelum aku mengajukan beberapa pertanyaan, Sarman menarik lenganku menuju kamar paling ujung. Aroma parfum murahan menyengat penciumanku setiap berpapasan dengan perempuan-perempuan berbaju minim penghuni penginapan ini. Di depan kamar nomor 9, Sarman mengetuk pintu dan menunggu. Tak ada jawaban. Baru pada ketukan kelima pintu terbuka. Tak ada seraut wajah menyembul dari balik pintu. Namun ada suara lembut menghampiri telingaku.

"Silakan masuk, aku sedang kosong," katanya.

Dan Sarman mendorongku tanpa berkata-kata. Aku masuk ke dalam kamar dan pintu di belakangku kembali tertutup. Kudengar teriak Sarman dari balik pintu, "Kau akan mendapatkan cerita hebat, Wija!"

Aku tahu Sarman menjebakku. Cerita macam apa ini? Masuk ke kamar pelacur? Dengan sudut mataku aku melihat perempuan itu menunggu di tepi pembaringan. Aku mengangkat kepala membalas tatapannya. Jantungku meloncat cepat. Perempuan dengan wajah tertutup kain hitam di kafe itu! Bagaimana mungkin?

"Silakan Tuan, kau boleh memperlakukanku sesukamu lalu membayar," katanya.

Aku duduk di sebuah kursi samping pembaringan. Tidak melepaskan pandangan dari matanya yang berkilat bahaya. Memutar otak sebelum mengeluarkan kata-kata yang tepat.

"Aku hanya ingin ngobrol."

Ia bangkit meraih wajahku, mendekatkan ke wajahnya.

"Dengar Tuan Besar, aku tak punya banyak waktu untuk ngobrol denganmu! Setiap detikku adalah uang."

"Kau akan menerima bayaran yang sama."

"Kau ingin ngobrol tentang apa denganku?" Ia melepaskan wajahku.

"Sarman bilang kau punya cerita hebat."

Perempuan itu bangkit dari duduknya dan tertawa mengejek. "Sarman benar! Banyak cerita hebat dalam hidupku! Kau mau yang mana?"

Aku menatap lantai ubin di bawahku. Mengatur napas yang tiba-tiba memburu. Perempuan itu duduk di depanku, lalu mengalirlah kisah itu.

"Aku seorang pembunuh, " katanya memulai.

Tatapannya menelitiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku merasa hendak dicincang atau ditelan hidup-hidup.

"Tapi aku tidak menyesal menjadi se- orang pembunuh." Dia tertawa datar.

"Karena itu memang harus kulakukan."

"Siapa yang mengharuskanmu?" tanyaku.

"Keadaan."

Sejenak kami terdiam. Membiarkan desau angin malam dan debur ombak memenuhi lengang lalu perempuan itu mendesah. Dan aku menunggu.

"Membunuh itu melegakan. Saraf tegang jadi mengendur."

"Bagaimana bisa lega kalau kemudian kau masuk penjara?" Aku menukas.

Kurasa perempuan ini agak sinting. Dan cerita hebat macam apa yang mesti kubayar untuk malam ini?

"Masuk penjara itu adalah pembebasan bagiku."
Dia menghela napas. "Karena suamiku adalah penjaraku yang sesungguhnya. Baginya aku tak lebih dari boneka pajangan yang bisa dihina dan disiksa sekehendaknya."

Aku bangkit dari duduk. Tak ada banyak waktu untuk mendengarkan keluh kesah wanita yang dianiaya suaminya. Sudah terlalu banyak cerita-cerita seperti ini, apa istimewanya? Dan aku harus segera mengakhirinya. Setelah meletakkan sejumlah uang di meja, aku menuju pintu.

"Aku menikahi lelaki itu karena letih menunggumu, Wija."

Apa yang baru saja kudengar? Aku berbalik dan mendapatkan wajah perempuan itu tanpa penutup kain hitam. Tubuhku terguncang melihat raut wajahnya yang pasi. Perempuan itu tersenyum. Dan pintu kotak kenangan itu terbuka lebar. Aku menemukan wajah perempuan itu di setiap sisinya. Wajah kenangan yang selalu tersimpan dalam lipatan hari-hariku. Tak bisa kubuang atau kubunuh.

Kulihat tangan mungilnya yang putih mengumpulkan pasir dan membentuknya menjadi istana. Sarman suka menggoda gadis kecil itu dan aku selalu melindunginya. Ketika remaja aku berkelahi dengan Sarman memperebutkan gadis itu. Beruntung, gadis itu memilihku. Setelah pindah ke kota, aku tak pernah menghubunginya. Kupikir, menyimpan gadis itu dalam kotak kenanganku akan aman. Semua bakal baik-baik saja hingga tiba saatnya aku datang menjemput dengan kereta kencana. Ternyata aku salah.

"Aku datang untuk menjemputmu," kataku parau.

Perempuan itu terbahak. "Setelah belasan tahun tanpa kabar?"

Aku mengangguk, entah untuk apa anggukan itu.

"Telan saja janji-janjimu, Wija. Aku bukan gadis yang kau kenal dulu. Sekarang aku adalah pembunuh, mantan napi dan pelacur. Semua sudah lengkap setelah aku kehilangan cintamu."

Ada sembilu yang menghajar ruang hatiku. Seharusnya aku sadar, waktu tak bisa diam menunggu. Waktu bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Dan aku tahu kini semuanya tidak baik-baik saja.

"Pergilah Wija, semua sudah berakhir," katanya menjejalkan uangku dan mendorongku keluar kamar.

"Aku akan memenuhi janjiku untuk menjemputmu," kataku.
Tetapi tangannya begitu kuat mendorongku keluar kamar. Lalu pintu di belakangku menutup keras. Samar kudengar isak tangis perempuan itu di balik pintu. Dan aku berbalik untuk mendorong pintu agar terbuka. Namun tak bisa kulakukan.
Kunci yang pernah dia berikan padaku telah kupatahkan. ***

Pesisir Blado, 15.11.2006